Inovasi Sispala SMANTA Olah Sampah Plastik jadi Gantungan Kunci

0
98
Siswa SMANTA yang tergabung dalam ekstrakurikuler Sispala Widya Loka Bhuana praktik pengolahan limbah plastik, Jumat, 10 April 2026. Sumber Foto : SMANTA/IJN.

InfoJembrana.com | JEMBRANA – SMAN 3 Negara (SMANTA) kembali menunjukkan inovasi melalui ekstrakurikuler Sispala Widya Loka Bhuana dengan mengolah sampah plastik menjadi gantungan kunci yang bernilai guna sekaligus bernilai jual.

Kegiatan yang berlangsung di aula sekolah tersebut melibatkan siswa dan pembina dalam praktik langsung pengolahan limbah plastik, Jumat, 10 April 2026.

Inovasi ini muncul dari evaluasi proyek sebelumnya, yakni pembuatan ecobrick yang dinilai cukup rumit dan memakan waktu. Sebagai alternatif, siswa memilih tutup botol karena lebih mudah diolah melalui proses pemanasan dan pencetakan.

Pembina Sispala, I Made Dwi Susila Adnyana mengatakan melalui kegiatan ini agar sampah plastik tidak hanya dibuang, tetapi dapat dimanfaatkan menjadi produk bernilai.

“Berawal dari kebingungan bagaimana mengolah sampah plastik supaya tepat guna dan bernilai jual, akhirnya muncul ide membuat gantungan kunci dari tutup botol,” ujarnya

Pemilihan tutup botol sebagai bahan utama didasari dari bentuk teksturnya yang lebih keras, sehingga cocok untuk proses pemanasan, penekanan, dan pemadatan. Berbeda dengan plastik kemasan yang cenderung mudah meleleh dan kurang efektif untuk dibentuk.

Selain menjadi solusi pengolahan sampah, kegiatan ini juga bertujuan menanamkan kesadaran lingkungan kepada siswa, khususnya anggota Sispala sebagai pionir. Kegiatan dikemas secara interaktif melalui pemaparan materi, diskusi santai serta games, sehingga membuat siswa lebih antusias dan tidak canggung untuk terlibat langsung.

Hal senada juga disampaikan Ketua Sispala angkatan 2024–2025, Ni Putu Nesha Indrayani, sebagai pencetus ide. Pentingnya praktik langsung sekaligus meningkatkan kesadaran siswa terhadap isu sampah di Bali.

“Menurutku penting mengajak adik-adik langsung praktek, bukan cuma teori saja. Apalagi project ini bukan sekedar pembuatan gantungan kunci, tapi mereka juga kita ajak untuk mengerti soal isu sampah di Bali,” ungkapnya.

Melalui tahapan pengumpulan, pembersihan, hingga pencetakan, siswa tidak hanya belajar kreativitas, tetapi juga kepedulian terhadap lingkungan.

Salah satu anggota, Ni Kadek Sri Ulandari, mengaku kegiatan ini memberikan pengalaman yang berkesan. “Kesan ikut kegiatan ini seru dan bermanfaat. Namun yang paling berkesan itu waktu lihat hasil akhirnya, dari yang awalnya cuma sampah jadi barang yang bisa dipakai dan memiliki nilai jual. Rasanya puas banget karena ini merupakan hasil kerja sendiri,” ujarnya.

Meski masih dalam tahap awal dan menghadapi kendala seperti keterbatasan alat, tempat dan anggaran. Kegiatan ini diharapkan berkembang menjadi program unggulan sekolah yang mampu mengurangi sampah plastik sekaligus menghasilkan produk bernilai ekonomis. Penulis : Syavina Nabilah Putrie/SMANTA/IJN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here