
InfoJembrana.com | JEMBRANA – Kantor Imigrasi Kelas II TPI Singaraja terus bergerak masif dalam menekan angka kejahatan transnasional. Kali ini, fokus utama diarahkan pada penguatan edukasi bagi para calon Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Kabupaten Jembrana guna menangkal ancaman Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) dan Tindak Pidana Penyelundupan Manusia (TPPM).
Bertempat di ruang rapat SPBU, Kelurahan Pendem, Jembrana, Rabu 15 April 2026, sosialisasi ini diikuti puluhan calon PMI dari 4 Lembaga Pelatihan Kerja (LPK). Kegiatan ini menjadi garda terdepan dalam memberikan pemahaman komprehensif bagi masyarakat, khususnya generasi muda yang memiliki antusiasme tinggi untuk mengadu nasib di luar negeri.
Kepala Subseksi Informasi dan Komunikasi Keimigrasian, Richard Jandres Tarigan, mengungkapkan bahwa kurangnya literasi menjadi celah utama yang dimanfaatkan para pelaku kejahatan.
”Banyak adik-adik kita ingin mencari penghasilan di luar negeri, namun belum memiliki pemahaman cukup sehingga berisiko menjadi korban. Kami hadir untuk memastikan mereka bisa membedakan mana tawaran resmi dan mana yang ilegal,” tegas Richard, ditemui usai memberikan pemaparan.
Ia menambahkan bahwa media sosial kini menjadi medan tempur utama para perekrut ilegal. Modus klasik yang masih ampuh adalah iming-iming gaji besar dengan beban kerja yang ringan. Destinasi seperti Kamboja dan Thailand kini mulai banyak menyasar tenaga ahli di bidang IT, sementara kawasan Timur Tengah masih didominasi oleh sektor domestik.
Imigrasi Singaraja tidak hanya sekadar memberikan ceramah. Sebagai langkah nyata mendukung kebijakan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, mereka mengandalkan program Desa Binaan dengan memberikan informasi valid mengenai prosedur resmi keberangkatan serta membedah modus dan motif yang kerap digunakan pelaku TPPO. Selain itu, pihaknya juga membuka ruang seluas-luasnya bagi warga untuk berkonsultasi sebelum memutuskan terbang ke luar negeri.
Hingga saat ini, Richard mencatat belum ada laporan resmi terkait korban TPPO maupun TPPM di bawah wilayah kerja Kantor Imigrasi Singaraja sepanjang tahun berjalan. Kendati demikian, kewaspadaan tetap menjadi prioritas utama.
”Sejauh ini data masih nihil, namun kami tetap gencar melakukan langkah preventif. Kami juga menggandeng media massa untuk memperluas jangkauan informasi ini agar tidak ada lagi warga kita yang terjebak dalam praktik perbudakan modern,” tutupnya.
Ke depannya, Kantor Imigrasi Singaraja menargetkan perluasan jangkauan edukasi secara bertahap di seluruh wilayah kerja demi memastikan keamanan dan perlindungan maksimal bagi setiap warga negara di kancah internasional. CAK/IJN

