InfoJembrana.com | JEMBRANA – Seorang remaja berusia 14 tahun di Jembrana harus menelan pil pahit. Bagaimana tidak? Sekolah yang seharusnya menjadi tempat yang aman dan nyaman, justru berubah menjadi mimpi buruk bagi Ni Kadek A. Sejak kelas satu SMP di Kecamatan Pekutatan, ia merasakan tekanan batin yang begitu kuat hingga akhirnya terpaksa berhenti sekolah di pertengahan semester kelas dua.
Kisah Kadek berawal dari perasaan tidak diterima oleh teman-teman sebaya. Ia menceritakan bahwa rasa takut dan tidak percaya diri selalu menghantuinya setiap kali hendak berangkat ke sekolah. Bukan karena takut kekerasan fisik atau kesulitan pelajaran, melainkan karena luka tak terlihat yang mengikis mentalnya.
“Setiap mau masuk sekolah, takut sampai tangan gemetar,” ujarnya.
Perlakuan berbeda ini ia rasakan sejak awal masuk sekolah. Bahkan saat ia kembali setelah sempat sakit, tak ada satu pun teman yang menyapa atau bertanya kabar. Sebaliknya, ia mendengar teman-temannya membicarakannya di belakang. Meskipun pembicaraan itu tidak buruk, hanya mempertanyakan alasannya tidak masuk sekolah, hal itu semakin menguatkan perasaannya bahwa ia tidak disukai.
”Saya merasa tidak disukai, tidak ada yang mau berteman. Rasanya tertekan sekali,” ungkap Kadek.
Ia merasakan teman-temannya menjauh. Bahkan ketika ia mencoba bersikap ramah dan menyapa lebih dulu, tidak ada yang menyahut. Perasaan tertekan itu membuat tubuhnya sering gemetar dan sakit, bahkan pernah pingsan. Akhirnya, Kadek memutuskan untuk putus sekolah.
“Kalau tidak berhenti, sekarang sudah kelas sembilan,” ucapnya.
Meskipun keluarga dan teman-teman dekatnya telah membujuknya untuk kembali, bahkan orang tuanya bersedia menemani ke sekolah, Kadek tetap menolak. Setelah enam bulan tidak bersekolah, ia berencana mengikuti program kejar paket sambil belajar Bahasa Inggris secara mandiri melalui ponsel. Ia memiliki impian besar untuk bisa bekerja di luar negeri suatu hari nanti.
Saat ini, Kadek juga mulai merajut dan bercita-cita membuka warung kecil di rumah untuk membantu ibunya. Seorang relawan dari komunitas Relawan Jembrana (KRJ), Putu Witari, bahkan tergerak untuk memberikan modal sebesar Rp 500 ribu untuk membantu Kadek memulai usaha es dan jajanan ringan.
Terkait kasus ini, Kepala UPTD PPA Jembrana, Ida Ayu Sri Utami Dewi, menjelaskan bahwa kondisi Kadek menunjukkan adanya trauma. Pihaknya berencana memberikan konseling psikologi agar Kadek bisa kembali percaya diri dan bersosialisasi. Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga Jembrana, I Gusti Putu Anom Saputra, memastikan pihaknya sudah berkoordinasi dengan sekolah dan akan mengunjungi Kadek.
“Alternatif kejar paket masih bisa dimasukkan,” tuturnya, menawarkan solusi agar Kadek tetap bisa melanjutkan pendidikannya. CAK/IJN


