
InfoJembrana.com | JEMBRANA – Musim kemarau mulai memicu krisis di Kabupaten Jembrana. Ironisnya, dampak kekeringan tahun ini pertama kali memukul fasilitas pendidikan, bukan permukiman warga. SMP Negeri 3 Melaya yang terletak di Desa Manistutu menjadi korban pertama setelah sumur bor milik sekolah mengering total sejak sepekan lalu.
Merespons situasi darurat tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jembrana bergerak cepat menyalurkan bantuan air bersih sebanyak 5.000 liter demi menyelamatkan aktivitas belajar mengajar di sekolah tersebut.
Kepala Pelaksana BPBD Jembrana, I Putu Agus Artana Putra, membenarkan bahwa permohonan bantuan pertama di musim kemarau ini justru datang dari pihak sekolah.
“Bantuan air bersih sudah kami salurkan sebanyak 5.000 liter. Distribusi dilakukan karena sumur bor di SMPN 3 Melaya mengalami kekeringan sejak sekitar satu minggu lalu,” ujar Agus Artana, Sabtu 18 Juli 2026.
Air bersih tersebut dialokasikan untuk menunjang kebutuhan sanitasi dasar serta aktivitas harian seluruh warga sekolah agar proses pendidikan tidak lumpuh. Desa Manistutu, khususnya area SMPN 3 Melaya, diakui memang menjadi salah satu titik rawan yang rutin dipantau BPBD setiap tahun saat curah hujan merosot.
Hingga pertengahan Juli, BPBD mencatat belum ada laporan resmi atau permintaan bantuan air bersih yang masuk dari sektor domestik atau permukiman warga.
Meskipun demikian, pihak BPBD Jembrana menegaskan tidak akan lengah. Personel dan armada tangki air telah disiagakan penuh untuk mengantisipasi potensi meluasnya dampak kekeringan. Masyarakat yang mulai mengalami krisis air diimbau untuk segera melapor melalui pemerintah desa setempat agar penanganan bisa langsung dilakukan.
Mengingat puncak musim kemarau diprediksi masih akan berlangsung dalam beberapa bulan ke depan, BPBD juga meminta masyarakat luas untuk mulai bijak dan menghemat penggunaan air bersih guna mencegah krisis yang lebih parah. CAK/IJN

