
InfoJembrana.com | JEMBRANA – Cuaca buruk dan arus laut yang tidak bersahabat di Selat Bali memicu kelumpuhan arus lalu lintas di Pelabuhan Gilimanuk, Kabupaten Jembrana. Akibat proses sandar kapal yang terhambat, antrean kendaraan logistik meluber hingga ke kawasan Hutan Cekik, memaksa para sopir truk gigit jari menghadapi lonjakan biaya operasional.
Kondisi ini dipicu oleh ketimpangan volume laju kendaraan yang tiba di pelabuhan jauh lebih cepat daripada kemampuan kapal untuk memberangkatkannya. Akibatnya, para pengemudi angkutan barang harus tertahan hingga belasan jam.
“Antrenya hampir setengah hari menuju pelabuhan. Harapannya penyeberangan kembali lancar agar ongkos perjalanan tidak membengkak karena terlalu lama antre,” keluh Riski Latif, sopir truk asal Jawa Timur.
Keluhan senada datang dari Siswanto, sopir asal Lumajang, yang mengkhawatirkan keterlambatan distribusi barang ke pulau seberang jika situasi ini terus berlarut.
Data Penyeberangan Bali–Jawa selama 24 jam terakhir yakni total perjalanan kapal 204 trip, melibatkan 29 armada aktif. Total penumpang tercatat 21.076 orang, diantaranya, kendaraan logistik (truk) sebanyak 1.912 unit, bus 339 unit, dengan total kendaraan tercatat 5.577 unit.
Meski puluhan armada telah dikerahkan, kombinasi antara tingginya volume kendaraan dan cuaca buruk tetap memicu penumpukan pada jam-jam tertentu.
“Selain karena peningkatan volume kendaraan yang keluar Bali pasca libur sekolah, kondisi juga akibat penerapan pola TBB (Tiba-Bongkar-Berangkat) kapal di Pelabuhan Gilimanuk,” kata Kanit Lantas Polsek Kawasan Pelabuhan Gilimanuk, AKP Kukuh Emanuel, dikonfirmasi Jumat 26 Juni 2026.
Kondisi ekor antrean kendaraan hingga saat ini, berada sekitar 1,5 kilometer dari areal Pelabuhan Gilimanuk. Petugas juga telah menerapkan rekayasa arus lalu lintas dengan mengarahkan kendaraan kecil (KK) menuju gang gang pemukiman. “Sementara kendaraan kecil kami arahkan ke gang 1 pemukiman warga. Sedangkan truk besar dan bus lurus menuju arah pelabuhan,” jelasnya.
Saat ini, petugas gabungan di lapangan terus memutar otak untuk mengurai kemacetan. Pengaturan arus kendaraan dan percepatan proses pemuatan kapal (loading) kini dioptimalkan demi mengantisipasi lonjakan mobilitas masyarakat menjelang musim libur sekolah. CAK/IJN

