Pukau Ribuan Penonton, Sekaa Baleganjur Krishna Candaka Abinawa Wakili Jembrana di PKB

0
40
Penampilan Baleganjur Remaja Duta Kabupaten Jembrana kembali menjadi salah satu suguhan yang paling dinantikan dalam rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026. Tampil di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Bali, Kamis 18 Juni 2026. Sumber foto : Ist/IJN.

InfoJembrana.com | ​JEMBRANA – Penampilan Baleganjur Remaja Duta Kabupaten Jembrana kembali menjadi salah satu suguhan yang paling dinantikan dalam rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026. Tampil di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Bali, pada Kamis 18 Juni 2026. Sekaa Baleganjur Krishna Candaka Abinawa dari Sanggar Seni Arsa Wijaya, Desa Nusasari, Kecamatan Melaya, sukses memukau ribuan penonton yang memadati arena pertunjukan.

​Penampilan memikat yang disaksikan langsung Bupati Jembrana, I Made Kembang Hartawan, tersebut menghadirkan karya mendalam bertajuk “Atma Kerti”. Garapan ini berangkat dari tradisi Ngajum Sekah, sebuah prosesi merias dan merangkai puspa lingga sebagai simbol atma atau roh dalam mengantarkan Sang Pitara menuju kesempurnaan jiwa. Namun, di tangan para seniman muda ini, ritual sakral tersebut tidak sekadar ditarikan, melainkan didekonstruksi menjadi sebuah refleksi kehidupan modern.

​Dalam realitas sehari-hari, istilah Ngajum Sekah acap kali bergeser makna untuk menyindir fenomena sosial: bersolek demi citra, meninggikan gengsi, hingga mempertontonkan ego belaka. Dari benturan dua dimensi maknawi inilah “Atma Kerti” dibangun. Melalui monolog teatrikal yang mengiringi jalannya pementasan, penonton diajak merenungkan batas tipis antara penghormatan tulus dan kesombongan semu.

​Karya ini secara berani mempertanyakan esensi penghormatan simbolis yang dirayakan besar-besaran, sementara manusia kerap menutup mata terhadap kerusakan lingkungan dan krisis sosial di sekitarnya. Sentilan tajam itu tersurat jelas dalam narasi pementasan yang menghentak panggung Ardha Candra:

​“Sungai dipenuhi sampah, hutan perlahan menghilang, laut mengembalikan apa yang kita buang, ruang hidup semakin sesak, jalan-jalan semakin padat, dan manusia semakin terburu-buru.”

​Kegelisahan eksistensial tersebut bermuara pada satu pertanyaan fundamental bagi penonton: apakah yang sesungguhnya sedang dimuliakan oleh peradaban saat ini—kesadaran suci di dalam jiwa, atau sekadar kemegahan simbol yang dirayakan?

​Secara musikal, gagasan filosofis Ngajum Sekah diterjemahkan ke dalam struktur baleganjur melalui metode Mayasin (merias gending). Pola dasar berupa melodi, sukat, tempo, dan ritme dikembangkan lewat lapisan-lapisan ornamentasi yang kian lama kian padat, mengimitasi proses merangkai bunga dalam ritual aslinya. Ornamentasi yang rapat ini menjadi representasi visual sekaligus auditori atas ambisi manusia yang selalu ingin memperindah dan melebih-lebihkan bentuk simbolik.

​Menariknya, estetika magis musik Jegog khas Jembrana turut disisipkan di tengah komposisi. Kehadiran Jegog bukan sekadar tempelan identitas daerah, melainkan simbol kultural bahwa kebanggaan komunal sering kali berjalan beriringan dengan ego kelompok yang ingin ditonjolkan.

​Kombinasi konsep yang matang, dinamika musikal yang presisi, serta koreografi dramatis dari kolaborasi tim kreatif, Gede Yogi Sukawidjana, I Kadek Widyawan, Agus Onek, beserta para pembina, berhasil mengubah pementasan ini menjadi tontonan yang tidak hanya menghibur, tetapi juga sarat kontemplasi kemanusiaan. CAK/IJN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here