Dinantikan Keluarga, Pemulangan Jenazah PMI Jembrana Terkendala Biaya

0
108
Orangtua almarhum saat menunjukan foto I Kadek Mas Heriadi, di rumah duka rumah duka Banjar Bilukpoh Kangin, Kelurahan Tegalcangkring, Kecamatan Mendoyo, Jembrana. Sumber foto : Ist/IJN.

InfoJembrana.com | JEMBRANA – Hingga saat ini, jenazah seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Jembrana, I Kadek Mas Heriadi, yang dilaporkan meninggal dunia di Jepang, masih tertahan akibat benturan biaya yang mencapai ratusan juta rupiah. Keluarga di rumah duka Banjar Bilukpoh Kangin, Kelurahan Tegalcangkring, Kecamatan Mendoyo, sangat menantikan kepulangan jenazah almarhum.

Status keberangkatan almarhum yang unprosedural (non-prosedural) menjadi akar masalah finansial ini. Akibatnya, seluruh biaya pemulangan tidak ditanggung oleh sistem resmi dan harus ditutup secara mandiri. Kondisi ini memicu aksi solidaritas dari sesama pekerja migran di Jepang.

“Seluruh biaya ditanggung sendiri dan jumlahnya ratusan juta. Jadi kami bahu-membahu sesama pekerja di Jepang untuk membantu biaya pemulangan,” ujar salah satu penasihat Asosiasi Orang Bali Ibaraki (Asobi), pada 1 Juni 2026.

Demi memecahkan kebuntuan, para pekerja migran asal Bali di Jepang langsung bergerak cepat dengan membagi tugas ke dalam dua tim yakni satu tim, fokus mengurus kelengkapan berkas pemulangan jenazah hingga ke Pulau Dewata dan tim lainya bergerak cepat mengumpulkan donasi sukarela dari sesama perantau.

Misi kemanusiaan ini dikejar oleh tenggat waktu yang ketat. Pasalnya, biaya sewa tempat penitipan jenazah di Jepang terus berjalan dengan tarif mencapai Rp 1,5 juta per hari. Para perantau menargetkan pengumpulan dana dapat rampung dalam waktu satu minggu agar biaya tidak semakin membengkak.

Sementara, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Perindustrian (Naker Perin) Jembrana, Kadek Mirah Ananta Sukma Dewi, membenarkan bahwa almarhum berangkat ke Jepang sekitar tahun 2012. Kendati demikian, nama Kadek Mas tidak tercatat dalam daftar resmi Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI).

Meski terkendala status prosedural, pemerintah daerah menegaskan tidak akan tinggal diam dan fokus memberikan dukungan penuh kepada pihak keluarga dan menjalin komunikasi intensif dengan KBRI melalui BP3MI.

Selain itu, pihaknya juga terus berkoordinasi dengan paguyuban warga Jembrana yang berada di Ibaraki, Jepang, untuk menelusuri peluang skema asuransi yang mungkin bisa diakses, baik dari agen penempatan terdahulu maupun BPJS Ketenagakerjaan (BPJSTK) PMI.

“Saat ini fokus kami adalah memberi dukungan keluarga, berkomunikasi dengan KBRI melalui BP3MI. Untuk biaya juga masih terus kami koordinasikan, semoga ada jalan keluarnya,” jelasnya. CAK/IJN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here