
InfoJembrana.com | DENPASAR- Penyidik Kepolisian Daerah Bali menemukan titik terang dalam pengungkapan kasus hilangnya warga negara Ukraina bernama Ihor Mokarav. Tim laboratorium forensik memastikan bercak darah pada sebuah vila di Tabanan identik dengan profil genetika ibu kandung korban. Polisi kini mengalihkan fokus penyelidikan dari dugaan penculikan menjadi dugaan pembunuhan berencana yang disertai dengan tindakan mutilasi.
“Ada sampel yang kami dapat ketika lidik, sampel darah itu, nah itulah yang kemudian kami mintakan DNA dari ibu si korban ini,” kata Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Bali Kombes Pol Ariasandy pada Selasa, 3 Maret 2026.
Aparat kepolisian mengaitkan temuan ceceran darah tersebut dengan sebuah unit mobil sewaan yang terparkir di area lokasi kejadian. Hasil pengujian secara saintifik membuktikan bahwa jejak biologis pada kendaraan tersebut berasal dari pria berusia dua puluh delapan tahun itu. Petugas meyakini pelaku menggunakan mobil tersebut untuk memindahkan tubuh korban setelah melakukan tindak kekerasan di dalam kamar vila.
“Makanya kami bisa ketahui bahwa sampel darah yang ada di mobil sama Villa itu identik, sama dengan DNA-nya ibunya, sehingga kita yakin bahwa si korban itu memang dibawa dengan mobil ini dan ditaruh di villa sana,” ujar Ariasandy.
Kepolisian telah menetapkan seorang warga negara Nigeria berinisial CGN sebagai tersangka utama dalam perkara yang menghebohkan masyarakat Pulau Dewata ini. Pria asing tersebut berperan sebagai penyewa vila di kawasan Tabanan sekaligus pemegang kunci kendaraan yang mengangkut tubuh Ihor Mokarav. Penyidik terus mendalami keterlibatan lima warga negara asing lainnya yang diduga ikut membantu tersangka dalam mengeksekusi rencana pembunuhan tersebut.
Tim forensik Rumah Sakit Umum Pusat Prof. Ngoerah sedang melakukan otopsi mendalam terhadap potongan tubuh yang ditemukan di wilayah Gianyar. Petugas medis menemukan sebuah tato pada bagian kulit yang masih utuh dan memiliki kesamaan desain dengan milik Ihor Mokarav. Kendala utama proses identifikasi saat ini adalah kondisi jaringan tubuh yang sudah mengalami pembusukan cukup parah akibat faktor cuaca.
“Selama hasil resmi belum keluar, kami belum bisa mengatakan itu korban yang sama,” tegas Ariasandy.
Penyidik menerapkan metode scientific crime investigation untuk menyinkronkan seluruh bukti fisik yang tersebar di beberapa titik lokasi kejadian perkara. Polisi masih menunggu hasil perbandingan DNA tahap kedua guna memastikan identitas potongan tubuh manusia yang ditemukan oleh warga setempat. Keberhasilan mengungkap profil genetika dari bercak darah menjadi bukti kuat untuk menyeret para tersangka ke meja hijau persidangan nanti. (GA/IJN).

