
InfoJembrana.com | JEMBRANA – Musim kemarau panjang yang melanda Kabupaten Jembrana kian mengkhawatirkan. Menurunnya debit sumber air secara drastis dalam dua pekan terakhir memicu krisis air bersih parah di sejumlah wilayah, dengan Kelurahan Pendem sebagai lokasi yang paling terdampak.
Di Lingkungan Pancardawa saja, sekitar 200 Kepala Keluarga (KK) telah berjuang melawan kekeringan selama lebih dari satu bulan terakhir. Warga terpaksa merogoh kocek untuk membeli air isi ulang demi konsumsi harian. Sementara untuk kebutuhan MCK (mandi, cuci, kakus), warga harus menempuh jarak sekitar 100 meter menuju sungai terdekat.
“Sudah ada dua bulan tidak air (bersih). Biasanya air dari gunung, sekarang sudah macet total ini air. Untuk mandi dan cuci (pakaian) di sungai. Kalau masak dan minum saya beli air,” tutur I Kadek Sandiwantara (51) warga Lingkungan Pancardawa, ditemui di rumahnya Senin 27 Juli 2026.
Senada dengan Sandi, Kepala Lingkungan Pancardawa, I Putu Partikayasa mengatakan telah mengusulkan ke pemerintah daerah, untuk pembangunan empat titik sumur bor di wilayahnya.
“Kami berharap ada solusi jangka panjang. Selama ini kami sudah mengusulkan pembangunan empat titik sumur bor agar setiap musim kemarau warga tidak lagi mengalami krisis air,” ujarnya.
Guna meredam krisis yang kian meluas, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jembrana berkolaborasi dengan Palang Merah Indonesia (PMI) Jembrana bergerak cepat menyalurkan bantuan, Senin 27 Juli 20226. Untuk Lingkungan Dewasana (35 KK terdampak) dan Pancardawa dengan memasang tandon air serta menyalurkan pasokan secara berkala.
“Total air bersih yang telah kami distribusikan di wilayah Kelurahan Pendem mencapai sekitar 30 ribu liter,” terang Kepala Pelaksana BPBD Jembrana, I Putu Agus Artana Putra.
Sedangkan PMI Jembrana menggerakkan armada mobil tangki berkapasitas 5.000 liter untuk mengisi lima tandon dan dua bak penampungan warga di empat titik krusial.
Kepala Markas PMI Jembrana, I Wayan Wikrama Wardana, menegaskan bahwa aksi tanggap darurat ini akan terus digencarkan. Berdasarkan koordinasi dan data BMKG, puncak kemarau diprediksi terjadi pada Agustus hingga September, dengan dampak yang berpotensi memanjang hingga akhir tahun.
Selain Kelurahan Pendem, beberapa wilayah lain yang masuk dalam zona rawan krisis air bersih di Jembrana meliputi, Desa Manistutu dan Desa Yehembang.
BPBD Jembrana mengimbau seluruh masyarakat untuk menggunakan air secara bijak dan segera melapor ke pihak kelurahan atau BPBD jika wilayahnya mulai mengalami kelangkaan air bersih agar bantuan dapat segera disalurkan. CAK/IJN

