
InfoJembrana.com | JEMBRANA – Penutupan TPA Suwung di Denpasar kini memicu krisis kebersihan hingga ke ujung barat Pulau Bali. Kelurahan Gilimanuk terpaksa menanggung beban kiriman sampah dari para oknum sopir logistik yang tak bisa membuang limbahnya di ibu kota.
Pada Jumat pagi 17 April 2026, aksi gotong royong besar-besaran di sepanjang jalur nasional Denpasar-Gilimanuk berhasil menjaring sedikitnya 2,5 ton sampah. Mirisnya, selain sisa sampah pasca arus mudik Lebaran, tumpukan limbah yang didominasi plastik ini ditemukan berserakan di kawasan hutan lindung, mulai dari timur kantor Taman Nasional Bali Barat (TNBB) hingga ke area Pura Dalem Desa Adat Gilimanuk.
Lurah Gilimanuk, Ida Bagus Tony Wirahadikusuma, mengungkapkan bahwa pengetatan aturan di Denpasar pasca-penutupan TPA Suwung membuat oknum pedagang dan sopir angkutan barang dari Jawa melakukan aksi “kucing-kucingan”.
”Karena ada larangan buang sampah di Denpasar, mereka diminta membawa sampahnya pulang. Namun, dalam perjalanan, mereka justru membuangnya secara sengaja di areal Gilimanuk. Kami menemukan banyak kantong sampah berisi sisa logistik angkutan barang,” tegas Lurah Tony.
Gotong royong melibatkan berbagai unsur, mulai dari aparat Kelurahan Gilimanuk, pihak Taman Nasional Bali Barat (TNBB), puluhan prajurit Yonif-TP 928/BSY, siswa MA Al-Mubarok, Babinsa serta warga Gilimanuk.
Tercatat lebih dari 200 karung sampah terkumpul hanya dalam waktu satu pagi. Menanggapi fenomena “sampah kiriman” ini, pihak Kelurahan Gilimanuk tidak tinggal diam.
Lurah Tony menegaskan pihaknya akan menggandeng instansi terkait dan Satgas untuk melakukan patroli rutin di titik-titik rawan kawasan hutan Cekik. Langkah ini diambil guna memburu oknum sopir nakal yang menjadikan jalur hijau sebagai tempat pembuangan sampah ilegal demi menghindari aturan di Denpasar. CAK/IJN

