Wayan Koster Genjot Penanaman Mangrove, Abrasi Ancam Pesisir Bali

0
29
Gubernur Bali Wayan Koster memperingatkan daratan Bali hilang 40 km persegi akibat abrasi. Penanaman mangrove menjadi solusi vital penyelamatan pesisir.

InfoJembrana.com | DENPASAR- Gubernur Bali Wayan Koster mengungkap data mengejutkan mengenai penyusutan luas daratan Pulau Dewata akibat hantaman ombak. Fenomena alam ini menyebabkan daratan Bali berkurang hingga 40 kilometer persegi dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir. Koster menyampaikan hal tersebut saat menghadiri acara penanaman bibit mangrove di Mangrove Arboretum Park, Denpasar, Jumat, 10 April 2026.

“Luas daratan Bali berkurang sekitar 40 kilometer persegi dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir akibat dampak abrasi pantai di Bali,” kata Gubernur Wayan Koster saat memberikan sambutan resmi.

Kawasan Bali bagian Selatan dan Utara menjadi titik paling parah yang mengalami pengikisan daratan secara masif. Banyak lahan pertanian produktif di pesisir selatan kini telah hilang dan hanya menyisakan dokumen sertifikat tanah saja. Pemerintah Provinsi Bali menilai penanaman hutan bakau menjadi langkah paling krusial untuk menahan laju kerusakan lingkungan pesisir.

“Bahkan di Bali Selatan banyak sawah yang saat ini hanya tersisa sertifikatnya saja karena lahannya sudah tenggelam tertutup air laut,” ungkap Koster menjelaskan kondisi lapangan.

Kegiatan pelestarian alam ini merupakan hasil kolaborasi strategis antara Pemerintah Provinsi Bali dengan Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. Direktur Jenderal Politik dan Pemerintahan Umum Kemendagri Akmal Malik hadir langsung untuk mendukung penuh inisiatif hijau tersebut. Program penanaman pohon mangrove ini sejalan dengan visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali dalam menjaga ekosistem.

“Apa yang diprogramkan hari ini merupakan bagian dari agenda rutin kami menanam pohon khususnya mangrove untuk menjaga alam Bali,” tuturnya kepada awak media.

Pemerintah daerah tengah mengoptimalkan implementasi berbagai regulasi lingkungan hidup melalui aksi nyata berupa pembersihan sungai dan laut. Koster juga menyinggung rencana penutupan total Tempat Pembuangan Akhir atau TPA Suwung yang akan berlaku mulai Agustus mendatang. Seluruh komponen masyarakat harus bergerak bersama dalam menjaga keutuhan daratan dari ancaman kenaikan permukaan air laut global.

“Kegiatan ini akan semakin memotivasi kami untuk bergerak bersama melibatkan semua komponen masyarakat dalam menjaga lingkungan secara prioritas,” tegas politikus asal Sembiran itu.

Dirjen Politik dan Pemerintahan Umum Kemendagri Akmal Malik memberikan apresiasi tinggi terhadap komitmen kepemimpinan Gubernur Bali dalam mengawal regulasi. Ia melihat Wayan Koster sebagai sosok kepala daerah yang bekerja dengan hati demi kemajuan dan keamanan daerah. Akmal mendorong agar pola penanaman mangrove di masa depan tidak hanya berfokus pada fungsi ekologi semata.

“Kita harus ubah polanya, menanam mangrove jangan hanya berorientasi pada ekologi tetapi juga harus mampu mendatangkan manfaat ekonomi masyarakat,” ujar Akmal Malik memberi masukan.

Hutan bakau di Bali memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi kawasan ekowisata berbasis pemberdayaan warga lokal di sekitar pesisir. Integrasi antara perlindungan alam dan peningkatan kesejahteraan ekonomi akan menjamin keberlanjutan program pelestarian lingkungan dalam jangka panjang. Implementasi kebijakan yang konsisten menjadi kunci utama agar luas wilayah daratan Bali tidak terus mengalami penyusutan drastis.

“Saya jatuh hati pada Pak Koster karena beliau merupakan salah satu Gubernur yang bekerja dengan hati mengawal regulasi kemajuan daerah,” puji Akmal Malik di akhir acara.

Masyarakat pesisir diharapkan ikut berperan aktif dalam merawat bibit mangrove yang telah tertanam di sepanjang garis pantai Bali. Pemerintah provinsi berjanji akan terus memonitor perkembangan vegetasi pantai guna memastikan tingkat keberhasilan tumbuh tanaman bakau tersebut. Upaya kolektif ini menjadi benteng terakhir bagi kelestarian Pulau Dewata dari ancaman krisis iklim yang kian nyata.

“Regulasinya sudah cukup memadai sekarang tinggal mengoptimalkan implementasi di lapangan melalui gerakan rutin penanaman pohon setiap bulan,” pungkas Koster. (GA/IJN).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here