InfoJembrana.com | JEMBRANA- Gelombang infeksi varian baru Influenza A kini menjadi ancaman nyata bagi kesehatan masyarakat di berbagai wilayah Indonesia. Penyakit yang populer dengan sebutan Super Flu ini membawa karakteristik serangan yang jauh lebih agresif daripada infeksi saluran pernapasan pada umumnya. Para ahli medis kini memberikan atensi khusus pada manifestasi klinis yang dialami oleh pasien karena perbedaannya yang sangat mencolok dengan flu biasa.
Dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, dr. Farindira Vesti Rahmasari, membedah secara rinci bahaya varian H3N2 subclade K ini. Beliau menekankan bahwa masyarakat tidak boleh menyamakan gejala virus ini dengan sekadar hidung meler atau bersin ringan yang biasa hilang dalam sekejap. Penanganan yang terlambat pada varian ini dapat memicu penurunan kondisi fisik secara drastis dalam waktu yang sangat singkat.
Perbedaan paling mendominasi pada infeksi Super Flu ini terletak pada lonjakan suhu tubuh pasien yang sangat ekstrem secara mendadak. Suhu tubuh pengidapnya bisa melonjak drastis hingga menyentuh angka antara 39 sampai 41 derajat Celsius pada fase awal infeksi. Kondisi ini jauh melampaui rata-rata panas tubuh akibat flu biasa yang umumnya hanya berkisar pada angka 37 hingga 38,5 derajat Celsius saja.
Pasien juga akan merasakan serangan nyeri otot dan sendi yang sangat hebat di seluruh bagian tubuh mereka. Rasa nyeri yang intens ini memicu kondisi lethargy atau rasa lemas luar biasa yang membuat penderita sulit untuk sekadar bangkit dari tempat tidur. Tubuh seakan kehilangan seluruh energinya akibat sistem imun yang sedang bekerja keras melawan replikasi virus yang sangat masif di dalam aliran darah.
Gejala lain yang menyiksa adalah munculnya sakit kepala berat dengan intensitas nyeri yang jauh lebih tajam daripada pusing biasa. Kepala penderita akan terasa sangat berat dan berdenyut sehingga mengganggu konsentrasi serta kemampuan untuk beristirahat dengan tenang di malam hari. Keluhan ini seringkali menetap selama beberapa hari meskipun pasien sudah mencoba meminum obat pereda nyeri yang dijual bebas di apotek.
Infeksi virus ini juga menyerang area tenggorokan dengan sangat tajam sehingga memicu peradangan hebat pada saluran pernapasan bagian atas. Pasien biasanya mengalami batuk kering yang bersifat menetap dan terasa sangat sakit setiap kali mereka mencoba untuk berbicara atau menelan. Kombinasi antara demam tinggi di atas 39 derajat Celsius dan rasa lemas ekstrem menjadi alarm utama untuk segera mencari bantuan medis profesional.
Masyarakat harus segera menuju fasilitas kesehatan terdekat apabila menemukan gejala-gejala spesifik tersebut pada anggota keluarga atau lingkungan sekitar. Diagnosa dini melalui tes laboratorium sangat diperlukan untuk memastikan apakah pasien terinfeksi varian H3N2 subclade K atau jenis virus lainnya. Tindakan medis yang cepat dan tepat akan meminimalisir risiko terjadinya komplikasi fatal pada organ paru-paru maupun sistem saraf pusat manusia.
Upaya pencegahan melalui vaksinasi tetap menjadi benteng pertahanan paling kuat untuk menghadapi ancaman varian baru influenza yang terus bermutasi ini. Pola hidup bersih dengan rutin mencuci tangan menggunakan sabun tetap efektif dalam menghambat penyebaran droplet yang mengandung partikel virus jahat. Pastikan sirkulasi udara di dalam ruangan tetap terjaga dengan baik guna mengurangi konsentrasi virus yang mungkin melayang di udara bebas.
Pemerintah terus memperketat pengawasan pada setiap pintu masuk negara guna memantau pergerakan varian baru yang berpotensi memicu pandemi lokal baru. Fasilitas karantina dan ruang isolasi di beberapa rumah sakit rujukan telah disiapkan kembali untuk mengantisipasi adanya lonjakan kasus secara signifikan. Kerja sama yang baik antara warga dan pemerintah akan menjadi kunci keberhasilan dalam mengendalikan laju penularan Super Flu di tanah air. (GA/IJN).


