Sejarah Tajen, Dari Ritual Tabuh Rah yang Sakral, Hingga Saat Ini Terjadi Pro-Kontra Hukum?

0
593
Ilustrasi Ayam Jago yang akan beratrung di arena tajen atau sabung ayam.

InfoJembrana.com | JEMBRANA– Pernahkah Anda mendengar kata tajen? Sabung ayam di Bali ini sangat terkenal. Namun, tahukah Anda asal-usulnya? Sejarah tajen di Bali berakar dari masa lampau. Ia berasal dari era Majapahit kuno.

Awalnya, praktik ini adalah ritual suci, atau biasa disebut tabuh rah. Tabuh rah memiliki arti adalah persembahan darah yang menetes. Ini bukan sekadar adu ayam biasa, namun ritual yang kerap dilakukan saat Majapahit masih berjaya di Nusantara.

Tabuh Rah: Persembahan Darah Suci

Ritual tabuh rah adalah bagian upacara agama, yang tujuannya menyucikan tempat upacara adat, dan juga untuk menenangkan roh di sekitar arena yang akan digelar ritual. Persembahan darah ayam menjaga keseimbangan alam, pada keyakinan saat itu. Darah ayam diberikan kepada Bhuta Kala. Bhuta Kala adalah kekuatan alam yang negatif, sehingga darah dimaksudkan sebagai penetralisir energi negatif.

Darah yang tumpah dianggap sebagai yadnya, atau persembahan suci pada Tuhan. Persembahan ini meningkatkan derajat binatang. Peningkatan derajat terjadi di kehidupan selanjutnya, dan inilah sejatinya makna tajen Bali yang paling mendalam, yang dihimpun dari berbagai sumber. Ayam jantan melambangkan keberanian dan kekuatan. Pertarungan adalah simbol perjuangan kebaikan.

Dari Pura Goa Lawah Menuju Penggalangan Dana

Tradisi ini tercatat di Kitab Pararaton, yang diketahui sejak era Majapahit adu ayam sudah ada. Popularitasnya meningkat pada masa Dalem Waturenggong. Tajen sering digelar di depan Pura Goa Lawah, yang saat itu, kegiatan ini dianggap sangat sakral.

Sebelum tahun 1980-an, tajen sudah sangat berkembang. Tajen digunakan untuk mengumpulkan dana desa, yang kemudian dipakai untuk pembangunan atau acara adat. Fungsi sosial ini melengkapi fungsi ritualnya.

Pergeseran Nilai: Kontroversi dan Hukum

Sayangnya, terjadi pergeseran besar. Praktik tajen mulai disamakan dengan perjudian. Sabung ayam di Bali menjadi hiburan semata. Aspek taruhan menjadi jauh lebih dominan. Pergeseran nilai ini menimbulkan pro dan kontra.

Desa adat tidak melarang tajen secara tegas. Tajen masih bagian dari tradisi budaya. Desa adat berupaya mengatur unsur judi secara ketat. Sementara itu, pemerintah daerah bertindak keras. Kepolisian tetap menindak tajen yang berjudi. Mereka bertindak sesuai hukum yang berlaku.

Ada pihak mengusulkan wacana legalisasi. Tujuannya menjadikan tajen atraksi budaya. Harapannya, kriminalitas dapat berkurang. Namun, isu dan insiden tragis tetap muncul. Kekerasan sering terjadi di arena tajen. Kadang dipicu salah paham atau alkohol.

Meskipun bergeser, akar tradisinya kuat. Sejarah tajen di Bali tak bisa dihapus. Makna tajen Bali tetap menjadi persembahan suci. Ini adalah tantangan budaya yang rumit. Perlu keseimbangan antara adat dan hukum positif. Ritual tabuh rah harus tetap dijaga kesakralannya. (GA/IJN).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here