
InfoJembrana.com | JEMBRANA – Upaya memperkuat sistem pertahanan terhadap ancaman bencana hidrometeorologi dan seismik terus dikebut di Kabupaten Jembrana. Sebagai langkah konkret mitigasi di zona rawan, sejumlah wilayah pesisir strategis di Bumi Makepung kini resmi dilengkapi dengan fasilitas Early Warning System (EWS) tsunami.
Pemasangan perangkat penyiaran informasi dini tersebut menyasar tiga titik krusial, yakni Desa Penyaringan, Desa Yeh Kuning, dan Desa Pengambengan. Keberadaan teknologi ini diharapkan mampu memangkas waktu penyebaran informasi krusial saat keadaan darurat, sehingga rantai komando evakuasi warga dapat berjalan jauh lebih cepat, efektif, dan terarah.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jembrana, I Putu Agus Artana Putra, menegaskan bahwa pengoperasian EWS ini merupakan bagian vital dari tahapan pra-bencana.
”Kesiapsiagaan harus dibangun sebelum bencana terjadi. Karena itu kami terus mendorong pemanfaatan sistem peringatan dini seperti Warning Receiver System untuk gempa bumi dan Early Warning System untuk tsunami,” ujar Agus Artana saat memberikan pemaparan kesiapsiagaan bencana dalam apel bersama ASN di depan Kantor Bupati Jembrana, Senin 8 Juni 2026.
Selain mengandalkan pemutakhiran teknologi, BPBD Jembrana juga gencar memberikan edukasi kebencanaan kepada elemen Aparatur Sipil Negara (ASN) dan masyarakat luas. Mengingat keterbatasan sumber daya petugas, kemampuan melakukan evakuasi mandiri dinilai menjadi kunci utama dalam meminimalkan risiko korban jiwa.
Dalam fase pra-bencana ini, masyarakat diimbau tidak hanya terpaku pada alarm EWS, tetapi juga wajib mempraktikkan panduan praktis ‘Siap untuk Selamat’. Melalui panduan ini, setiap keluarga di Jembrana, khususnya di wilayah pesisir, diarahkan untuk mengenali potensi ancaman di lingkungan sekitar, memetakan dan memahami jalur evakuasi menuju zona aman, serta menentukan titik kumpul keluarga secara mandiri.
“Dan jangan lupa menyiapkan tas siaga bencana yang berisi dokumen penting serta logistik darurat,” ujarnya.
Melalui integrasi antara kesiapan infrastruktur EWS di ketiga desa pesisir tersebut dan peningkatan kapasitas mental masyarakat, BPBD Jembrana optimistis budaya sadar bencana dapat terbangun demi mewujudkan wilayah yang tangguh terhadap ancaman tsunami. CAK/IJN

