
InfoJembrana.com | JAKARTA- Eks penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi Novel Baswedan mencium aroma persekongkolan jahat dalam serangan terhadap aktivis KontraS Andrie Yunus. Novel menyebut para pelaku bekerja secara sistematis dengan melakukan pemantauan matang sebelum melancarkan aksi penyiraman air keras. Kelompok tersebut diduga kuat memiliki struktur yang rapi untuk membungkam suara kritis melalui teror fisik yang sangat keji.
“Saya menduga para pelaku pasti melakukan briefing terlebih dahulu untuk mematangkan rencana serangan terhadap korban,” ujar Novel Baswedan saat memberikan keterangan kepada awak media, Selasa, 17 Maret 2026.
Keyakinan Novel muncul setelah ia mencermati rekaman kamera pengawas atau CCTV di sekitar lokasi kejadian perkara. Video tersebut memperlihatkan sekelompok orang yang bergerak secara terkoordinasi saat mengikuti setiap langkah pergerakan Andrie Yunus. Pola serangan ini membuktikan bahwa para eksekutor telah mempelajari kebiasaan harian korban dalam waktu yang cukup lama.
“Dari CCTV terlihat pelaku bukan orang tunggal melainkan kelompok yang melakukannya dengan cara sangat terorganisir,” ucap Novel Baswedan dengan nada bicara yang sangat tegas.
Mantan penyidik senior itu menilai ada kesamaan pola serangan yang sangat identik dengan peristiwa kelam masa lalunya. Para pelaku menggunakan modus operandi serupa yakni mengincar bagian wajah korban saat situasi lingkungan sedang terlihat sepi. Novel mendesak kepolisian agar tidak hanya menangkap pelaku lapangan namun juga membongkar dalang intelektual di balik layar.
“Pastinya kalau polanya seperti itu mereka sudah mengikuti dan mempelajari banyak hal sebelum melakukan penyerangan,” kata Novel Baswedan yang juga pernah menjadi korban teror serupa.
Pihak Kepolisian Daerah Metro Jaya kini telah resmi menaikkan status perkara penyiraman air keras ini ke tahap penyidikan. Kapolda Metro Jaya menegaskan bahwa tim penyidik sedang bekerja keras mengumpulkan bukti tambahan untuk menyeret pelaku ke pengadilan. Aparat berjanji akan menuntaskan kasus ini secara transparan guna memberikan rasa aman bagi seluruh pejuang hak asasi.
“Kami memohon doa dari seluruh masyarakat agar identitas para pelaku dapat segera terungkap dalam waktu singkat,” ujar Kapolda Metro Jaya dalam konferensi pers di Mapolda.
Dukungan terhadap Andrie Yunus juga datang dari berbagai tokoh nasional yang mengecam keras tindakan kekerasan terhadap aktivis. Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla menduga serangan ini berkaitan erat dengan kegiatan advokasi yang sedang korban tangani. Sementara itu Anies Baswedan menegaskan bahwa perbedaan pandangan atau kritik tidak boleh dibalas dengan ancaman fisik yang brutal.
“Kritik seharusnya menjadi bagian dari demokrasi dan bukan dianggap sebagai ancaman yang harus dibalas kekerasan,” ucap Anies Baswedan saat ditemui di kediaman pribadinya.
Politikus PDI Perjuangan Yulius Setiarto turut mendesak kepolisian agar mengungkap motif di balik serangan yang menimpa anggota KontraS tersebut. Ia menilai pengusutan tuntas kasus ini menjadi ujian penting bagi penegakan hukum dan perlindungan terhadap kebebasan berpendapat. Publik kini menunggu keberanian Polri untuk membongkar jaringan terorganisir yang mencoba mengintimidasi para pembela hak asasi manusia.
“Pengusutan secara transparan sangat penting agar keadilan bagi aktivis dapat ditegakkan seadil-adilnya di negeri ini,” tutur Yulius Setiarto. (GA/IJN).

