Macet Gilimanuk Jadi Ladang Rezeki Warga Lokal

0
11
Ketut Oki, tukang ojek dadakan saat momen antrean arus mudik di jalur Denpasar Gilimanuk, Minggu 15 Maret 2026. Sumber foto : Ist /IJN.

InfoJembrana.com | JEMBRANA – Di balik wajah lelah para pemudik yang terjebak kemacetan horor sepanjang lebih dari 30 kilometer menuju Pelabuhan Gilimanuk, muncul fenomena menarik di sepanjang jalur Desa Kaliakah, Negara. Alih-alih hanya menonton antrean kendaraan, warga setempat justru sigap ‘menjemput bola’ dengan menyediakan berbagai kebutuhan logistik hingga jasa transportasi darurat.

Pantauan di lapangan pada Minggu 15 Maret 2026 menunjukkan geliat ekonomi dadakan yang cukup masif. Sepanjang pinggir jalan, warga menjajakan nasi jinggo dan kopi hangat yang menjadi penyelamat bagi para sopir truk serta pemudik yang mulai kelelahan akibat cuaca terik.

Salah satu pedagang dadakan, Wayan Netri (48), mengaku tergerak membuka lapak kopi karena melihat kemacetan yang luar biasa tahun ini. “Kasihan lihat sopir truk yang menunggu lama. Tumben macetnya sampai masuk ke desa kami, jadi kami tawarkan makanan dan minuman,” ujarnya.

Tak hanya logistik, fenomena ojek dadakan menjadi primadona baru. Banyak penumpang bus atau travel yang memilih turun dan melanjutkan perjalanan menggunakan motor demi mengejar waktu penyeberangan.

Uniknya, para penyedia jasa ini kerap mematok tarif yang tidak kaku, Rp.100 ribu hingga Rp.150 ribu per sekali antar.

“Saya tawarkan jasa ojek, ternyata mereka sangat antusias. Tarifnya bervariasi, sesuai keikhlasan saja karena niatnya juga membantu mereka yang putus asa menunggu di kendaraan,” tutur Ketut Oki.

Selain Ketut Oki, Kadek Soma (45) warga Desa Tukadaya, Melaya juga tak kalah akal. Pria yang keseharian sebagai sopir angkot ini, mencoba menawarkan jasa penunjuk arah atau jalan lintas pedesaan yang mengarah ke Pelabuhan Gilimanuk, dengan tarif Rp. 25 ribu hingga Rp. 50 ribu per mobil untuk mengantar sebagai petunjuk arah.

“Banyak yang mau jalan pintas ke desa desa. Iya saya tawarin dan saya antar sampai Sumbersari Melaya, lewat jalur pedesaan,” tuturnya sumringah.

Hingga siang ini, arus lalu lintas menuju Gilimanuk masih terpantau padat merayap. Meski kemacetan ini menjadi tantangan berat bagi aparat kepolisian, bagi warga Jembrana, momen mudik kali ini adalah waktu di mana empati dan peluang ekonomi bertemu di aspal jalanan. CAK/IJN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here