
InfoJembrana.com | JEMBRANA – Fenomena alam air laut surut parah melumpuhkan aktivitas penyeberangan di Dermaga Landing Craft Machine (LCM) Pelabuhan Gilimanuk, Kabupaten Jembrana, Rabu 28 Oktober 2026. Dampak dari dangkalnya perairan ini membuat kapal kesulitan bersandar hingga memicu antrean kendaraan yang hendak menyeberang menuju Pulau Jawa mengular hingga 1,5 kilometer.
Gangguan operasional di dermaga plengsengan tersebut mulai terjadi sejak pukul 04.00 WITA. Surutnya air membuat selisih ketinggian antara pintu ramdoor kapal dan permukaan dermaga terlalu ekstrem, sehingga proses bongkar muat kendaraan tidak aman untuk dilakukan. Sejumlah kapal pun terpaksa tertahan dan “memarkir” di tengah laut sambil menunggu air kembali pasang.
Pengguna jasa penyeberangan, Yanuar (45), mengakui bahwa kendala surutnya air laut di Dermaga LCM memang kerap berulang. “Biasanya agak siang baru normal, sekitar jam 9 ke atas,” tuturnya.
Dermaga 2 MB Diputus, Kapasitas Kian Terbatas
Selain hambatan di Dermaga LCM, kapasitas penyeberangan kian terbatas lantaran Dermaga 2 Movable Bridge (MB) juga sedang diputus operasionalnya akibat perbaikan rutin. Meski dermaga MB lainnya masih berfungsi, pengalihan arus tak mampu menampung lonjakan kendaraan yang terus berdatangan sejak dini hari.
Polisi Sekat Arus, ASDP Imbau Antisipasi Keterlambatan
Kapolsek Kawasan Pelabuhan Gilimanuk, AKP Gusti Kade Alit Murdiasa, membenarkan bahwa penumpukan kendaraan murni dipicu faktor cuaca dan pasang surut air laut. Personel kepolisian telah diterjunkan ke jalur utama untuk menyekat dan mengarahkan arus agar tidak memacetkan area kota Gilimanuk.
Secara terpisah, Manager Humas PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Ketapang, Bintang Felfian, mencatat ekor antrean kendaraan bahkan telah menyentuh kawasan depan gereja lokal.
“Hingga pukul 10.00 WITA, antrean kendaraan dilaporkan mencapai kawasan depan gereja di Gilimanuk dengan panjang sekitar 1,5 kilometer,” terang Bintang.
Pihak ASDP mengimbau para pengguna jasa yang akan melintasi jalur Ketapang–Gilimanuk untuk mengantisipasi potensi keterlambatan dan menyesuaikan waktu keberangkatan dengan siklus pasang surut air laut. CAK/IJN

