{"id":11087,"date":"2026-06-05T12:00:46","date_gmt":"2026-06-05T04:00:46","guid":{"rendered":"https:\/\/infojembrana.com\/?p=11087"},"modified":"2026-06-05T12:00:48","modified_gmt":"2026-06-05T04:00:48","slug":"kucing-liar-renggut-nyawa-ibu-rumah-tangga-di-tukadaya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/infojembrana.com\/index.php\/2026\/06\/05\/kucing-liar-renggut-nyawa-ibu-rumah-tangga-di-tukadaya\/","title":{"rendered":"Kucing Liar Renggut Nyawa Ibu Rumah Tangga di Tukadaya"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>InfoJembrana.com | \u200bJEMBRANA \u2013<\/strong> Seorang ibu rumah tangga bernama Ni Ketut Sari (38), warga Banjar Kembangsari, Desa Tukadaya, Kecamatan Melaya, Jembrana, meninggal dunia akibat diduga terjangkit rabies. Ironisnya, virus mematikan ini bukan ditularkan oleh anjing, melainkan akibat serangan kucing liar yang awalnya dianggap sepele oleh korban.<\/p>\n\n\n\n<p>\u200bSuasana haru masih terasa di kediaman korban. Suami almarhumah, Kadek Astina, tampak terpukul sembari memeluk foto sang istri yang berpulang pada akhir Mei lalu di RSUD Negara. Peristiwa ini meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, terutama dua buah hati mereka yang masih duduk di bangku SMA dan kelas 1 SD.<\/p>\n\n\n\n<p>\u200bBerdasarkan penuturan Kadek Astina, petaka itu bermula pada bulan April 2026 lalu. Saat sedang menjemur pakaian di depan rumah, Ni Ketut Sari mendadak diserang dan dicakar serta digigit oleh seekor kucing liar pada bagian betis kaki kanan.<\/p>\n\n\n\n<p>\u200b&#8221;Sebelumnya istri saya sehat-sehat saja. Sempat disarankan keluarga untuk berobat ke puskesmas, namun menolak karena menganggap luka tersebut sepele setelah dicuci dengan air dan sabun,&#8221; ujar Astina, ditemui di rumahnya Kamis 4 Juni 2026.<\/p>\n\n\n\n<p>\u200bNahas, masa inkubasi virus pun berlalu. Tepat pada 23 Mei 2026, korban mendadak jatuh sakit dengan gejala klinis rabies yang khas, seperti gelisah saat terkena angin dan ketakutan parah untuk minum air. Korban langsung dilarikan ke puskesmas sebelum akhirnya dirujuk ke RSUD Negara. Namun, esok harinya pada 24 Mei 2026, nyawa korban tidak tertolong. Jenazah almarhumah telah diaben pada 28 Mei lalu.<\/p>\n\n\n\n<p>\u200bHingga proses pengabenan selesai, empat orang anggota keluarga yang sempat merawat korban selama sakit justru belum mendapatkan suntikan Vaksin Anti Rabies (VAR). Padahal, mereka rentan terpapar melalui kontak cairan tubuh seperti air liur atau muntahan korban. &#8220;Ada petugas kesehatan datang ke sini, tetapi tidak ada yang menyarankan untuk saya mendapatkan vaksin VAR,&#8221; keluh Kadek Astina.<\/p>\n\n\n\n<p>Ditemui di rumah duka, Kelian Dinas Banjar Kembangsari, I Ketut Temon membenarkan kejadian tersebut. Menurutnya, kasus suspect rabies pada manusia ini menjadi yang pertama kalinya terjadi di wilayah Banjar Kembangsari, Desa Tukadaya. Di tengah keprihatinan tersebut, pihak keluarga dan aparat desa menyayangkan lambannya penanganan dari Dinas Kesehatan Jembrana.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Ada 4 orang keluarga yang belum mendapatkan VAR, mohon agar bisa segera diberikan supaya tidak ada lagi korban jiwa. Karena mereka sempat merawat korban, takutnya kena muntahan atau air liur dari korban, supaya bisa segera diantisipasi,&#8221; jelasnya.<\/p>\n\n\n\n<p>\u200bKeterlambatan ini disinyalir karena jalur birokrasi komunikasi antarinstansi. Dinas Pertanian, Perikanan, dan Pangan Kabupaten Jembrana melalui Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan (Keswan) mengaku baru menerima surat pemberitahuan dari Dinas Kesehatan sehari sebelum tindakan vaksinasi emergensi dan kontrol populasi di lokasi kejadian, Kamis 4 Juni 2026.<\/p>\n\n\n\n<p>\u200bMenyikapi laporan tersebut, tim gabungan langsung bergerak cepat melakukan penanganan darurat.<\/p>\n\n\n\n<p>\u200bKepala Bidang Keswan dan Kesmafet Jembrana, I Gusti Ngurah Putu Sugiarta, menyatakan bahwa pihaknya langsung menggelar vaksinasi darurat (emergency vaccination) guna memutus rantai penularan.<\/p>\n\n\n\n<p>\u200b&#8221;Kami menyasar vaksinasi emergensi sebanyak 21 ekor Hewan Penular Rabies (HPR), dengan rincian 20 ekor anjing dan 1 ekor kucing di radius tiga kilometer dari rumah korban. Kami juga mengambil sampel empat ekor anjing milik warga setempat untuk diuji laboratorium di Balai Veteriner Denpasar,&#8221; terang Sugiarta.<\/p>\n\n\n\n<p>\u200bBerdasarkan data berkala dari Bidang Keswan Jembrana, kasus gigitan positif rabies di Kabupaten Jembrana sepanjang Januari hingga awal Juni 2026 telah mencapai 33 kasus, dengan menelan 1 korban jiwa manusia.<\/p>\n\n\n\n<p>\u200bPemerintah mengimbau keras kepada seluruh lapisan masyarakat agar tidak meremehkan gigitan atau cakaran dari hewan penular rabies (HPR) seperti anjing, kucing, maupun kera. Jika terjadi kontak, warga diminta segera membasuh luka dengan air mengalir dan sabun, serta wajib segera melapor ke puskesmas terdekat untuk mendapatkan penanganan medis dan suntikan VAR secara cepat. <strong>CAK\/IJN <\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>InfoJembrana.com | \u200bJEMBRANA \u2013 Seorang ibu rumah tangga bernama Ni Ketut Sari (38), warga Banjar Kembangsari, Desa Tukadaya, Kecamatan Melaya, Jembrana, meninggal dunia akibat diduga terjangkit rabies. Ironisnya, virus mematikan ini bukan ditularkan oleh anjing, melainkan akibat serangan kucing liar yang awalnya dianggap sepele oleh korban. \u200bSuasana haru masih terasa di kediaman korban. Suami almarhumah, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":11088,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[32],"tags":[970,124,2999,285,1130,1316],"class_list":{"0":"post-11087","1":"post","2":"type-post","3":"status-publish","4":"format-standard","5":"has-post-thumbnail","7":"category-tukadaya","8":"tag-infojembrana","9":"tag-jembrana","10":"tag-kucing","11":"tag-rabies","12":"tag-tukadaya","13":"tag-var"},"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/infojembrana.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11087","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/infojembrana.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/infojembrana.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/infojembrana.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/infojembrana.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=11087"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/infojembrana.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11087\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":11089,"href":"https:\/\/infojembrana.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11087\/revisions\/11089"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/infojembrana.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/11088"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/infojembrana.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=11087"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/infojembrana.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=11087"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/infojembrana.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=11087"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}