{"id":10998,"date":"2026-05-24T21:09:49","date_gmt":"2026-05-24T13:09:49","guid":{"rendered":"https:\/\/infojembrana.com\/?p=10998"},"modified":"2026-05-24T21:09:51","modified_gmt":"2026-05-24T13:09:51","slug":"kunjungan-wisata-karangsewu-melonjak-kantongi-ratusan-juta-rupiah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/infojembrana.com\/index.php\/2026\/05\/24\/kunjungan-wisata-karangsewu-melonjak-kantongi-ratusan-juta-rupiah\/","title":{"rendered":"Kunjungan Wisata Karangsewu Melonjak, Kantongi Ratusan Juta Rupiah"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>InfoJembrana.com | \u200bJEMBRANA \u2013<\/strong> Objek Daya Tarik Wisata Alam (ODTWA) Karangsewu yang terletak di kawasan Taman Nasional Bali Barat (TNBB), Kelurahan Gilimanuk, Jembrana, mencatatkan performa memukau. Sejak pengelolaan resminya diserahkan penuh kepada masyarakat lokal pada Januari 2026, arus kunjungan wisatawan ke destinasi ekowisata ini melonjak tajam dan berhasil membukukan pendapatan hingga ratusan juta rupiah per Mei 2026.<\/p>\n\n\n\n<p>\u200bKetua Kelompok Ekowisata Alam Karangsewu, Baehaqi, mengungkapkan bahwa tren positif ini terlihat sangat signifikan dalam beberapa bulan terakhir. Tercatat, omzet yang berhasil dikumpulkan oleh kelompok masyarakat telah menembus angka sekitar Rp250 juta.<\/p>\n\n\n\n<p>\u200b&#8221;Aktivitas camping (berkemah) saat ini menjadi magnet utama bagi para pengunjung. Rata-rata kami kedatangan hingga 200 wisatawan per bulan. Bahkan, pada momen akhir pekan dan hari libur nasional, angka kunjungan bisa melonjak drastis hingga 85 orang per hari,&#8221; ujar Baehaqi.<\/p>\n\n\n\n<p>\u200bWisatawan yang datang tidak hanya berasal dari wilayah Bali, melainkan juga berbondong-bondong dari Pulau Jawa. Selain berkemah, daya tarik alam Karangsewu diperkaya dengan beragam aktivitas seru seperti bird watching (pengamatan burung), bermain kano, memancing, hingga menyusuri eksotisme hutan mangrove menggunakan perahu.<\/p>\n\n\n\n<p>\u200bKeberhasilan finansial dan popularitas yang diraih Karangsewu ini tidak lepas dari komitmen tegas pihak TNBB yang menutup rapat pintu bagi investor luar. Kepala SPTN Wilayah I Jembrana, Isai Yusidarta, menegaskan bahwa kawasan konservasi ini sengaja disiapkan murni untuk pemberdayaan ekonomi warga lokal tanpa merusak bentang alam.<\/p>\n\n\n\n<p>\u200b&#8221;Kami sudah menandatangani kontrak dengan masyarakat. Jadi tidak boleh ada investor masuk. Kawasan ini dikelola dengan pendekatan konservasi dan edukasi lingkungan,&#8221; tegas Isai, Jumat 22 Mei 2026.<\/p>\n\n\n\n<p>\u200bSistem zonasi perikanan tradisional yang kini melebur menjadi kawasan ekowisata bentukan tiga kelompok nelayan setempat (Kelompok Nelayan Karangsewu, Teluk Asri, dan Segara Merta) ini terbukti sukses menggerakkan roda ekonomi bawah.<\/p>\n\n\n\n<p>\u200bLurah Gilimanuk, Ida Bagus Tony Wirahadikusuma, mengakui dampak instan dari melonjaknya kunjungan wisatawan tersebut terhadap kesejahteraan warganya, khususnya para pelaku UMKM.<\/p>\n\n\n\n<p>\u200b&#8221;Dulu sebelum ada izin pengelolaan resmi, UMKM di Karangsewu sangat kesulitan mencari penghasilan. Sekarang kondisinya berbalik total. Hampir setiap hari kawasan ini ramai pengunjung, dan penghasilan masyarakat otomatis meningkat drastis,&#8221; pungkas Tony.<\/p>\n\n\n\n<p>\u200bKe depan, dengan dukungan program community development dari PT PLN Indonesia Power PLTG Gilimanuk, Kelompok Ekowisata Karangsewu tengah bersiap melebarkan sayap ke aktivitas premium seperti wisata diving, fotografi bawah laut, hingga program adopsi karang dan mangrove. <strong>CAK\/IJN<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>InfoJembrana.com | \u200bJEMBRANA \u2013 Objek Daya Tarik Wisata Alam (ODTWA) Karangsewu yang terletak di kawasan Taman Nasional Bali Barat (TNBB), Kelurahan Gilimanuk, Jembrana, mencatatkan performa memukau. Sejak pengelolaan resminya diserahkan penuh kepada masyarakat lokal pada Januari 2026, arus kunjungan wisatawan ke destinasi ekowisata ini melonjak tajam dan berhasil membukukan pendapatan hingga ratusan juta rupiah per [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":10999,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[2972,91,970,124,1364],"class_list":{"0":"post-10998","1":"post","2":"type-post","3":"status-publish","4":"format-standard","5":"has-post-thumbnail","7":"category-uncategorised","8":"tag-camping","9":"tag-gilimanuk","10":"tag-infojembrana","11":"tag-jembrana","12":"tag-karangsewu"},"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/infojembrana.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10998","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/infojembrana.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/infojembrana.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/infojembrana.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/infojembrana.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=10998"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/infojembrana.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10998\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":11000,"href":"https:\/\/infojembrana.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10998\/revisions\/11000"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/infojembrana.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/10999"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/infojembrana.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=10998"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/infojembrana.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=10998"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/infojembrana.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=10998"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}