Harga BBM Nonsubsidi Berpotensi Melonjak 1 April 2026 Diprediksi Hingga 10 Persen

0
14
Konflik Timur Tengah memicu lonjakan harga minyak dunia hingga 115 dolar per barel dan mengancam kenaikan harga BBM nonsubsidi di Indonesia.

InfoJembrana.com | JAKARTA- Konflik geopolitik yang memanas di kawasan Timur Tengah kini mulai mengancam stabilitas harga energi domestik di tanah air. Ketegangan militer antara Iran dengan aliansi Amerika Serikat dan Israel memicu kekhawatiran besar terhadap pasokan minyak global. Penutupan jalur strategis di Selat Hormuz menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan harga komoditas mentah secara signifikan.

“Kenaikan harga BBM nonsubsidi merupakan konsekuensi logis dari lonjakan harga minyak dunia yang terjadi saat ini,” ujar Pengamat Ekonomi Wisnu Wibowo.

Harga minyak mentah jenis Brent untuk kontrak berjangka bulan Mei terpantau merangkak naik hingga hampir tiga persen. Angka perdagangan menyentuh level seratus lima belas dolar Amerika per barel pada sesi pembukaan pasar pagi hari ini. Kondisi pasar global yang sangat volatil ini memaksa pemerintah Indonesia untuk segera menghitung ulang skema harga eceran.

“Variabel harga acuan dan kurs saat ini sangat dinamis sehingga wajar jika terjadi penyesuaian harga di tingkat eceran,” kata Wisnu.

Para analis memprediksi harga jual bahan bakar nonsubsidi akan mengalami kenaikan pada kisaran lima hingga sepuluh persen. Jika prediksi ini akurat maka harga bensin jenis RON 92 kemungkinan besar akan naik seribu rupiah per liter. Estimasi tersebut muncul setelah melihat tren kenaikan biaya logistik dan asuransi pengiriman minyak mentah dari luar negeri.

“Range kenaikan segitu dalam kondisi normal sehingga masyarakat bisa menghitung potensi perubahan harga yang mungkin terjadi nanti,” tutur Wisnu.

Pemerintah sendiri sebenarnya sudah melakukan penyesuaian harga sejumlah produk bahan bakar nonsubsidi pada periode Maret tahun ini. Harga Pertamax sebelumnya naik menjadi dua belas ribu tiga ratus rupiah dari angka sebelas ribu delapan ratus rupiah. Sementara itu produk Pertamax Turbo juga mengalami kenaikan harga menjadi tiga belas ribu seratus rupiah per satu liternya.

“Pemerintah mempertimbangkan harga acuan dunia dan nilai tukar rupiah dalam menetapkan formula harga jual eceran bahan bakar,” jelas laporan tersebut.

Mekanisme penentuan harga bensin nonsubsidi di Indonesia mengikuti pergerakan indeks Mean of Platts Singapore serta laporan independen Argus. Kedua lembaga internasional tersebut menjadi rujukan utama bagi otoritas energi nasional dalam menetapkan tarif batas atas jual. Fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat juga menjadi komponen penting dalam struktur pembentuk harga akhir.

“Kenaikan pada range yang mungkin di atas normal tentu akan melihat perkembangan lebih jauh atas situasi kawasan Timur Tengah,” ungkap Wisnu.

Meskipun harga energi nonsubsidi terus bergejolak namun pemerintah memastikan harga Pertalite dan Solar subsidi masih tetap stabil. Langkah ini bertujuan untuk melindungi daya beli masyarakat luas dari dampak inflasi yang mungkin muncul akibat kenaikan BBM. Otoritas fiskal terus memantau beban subsidi energi agar tetap berada dalam batas kemampuan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.

“Kebijakan penyesuaian harga bensin bersubsidi masih menjadi opsi terakhir yang akan diambil apabila tekanan fiskal semakin berat,” kata Wisnu menambahkan.

Masyarakat kini hanya bisa menunggu keputusan resmi kementerian terkait mengenai besaran kenaikan harga bahan bakar pada bulan depan. Pemerintah mengimbau warga agar tetap tenang dan tidak melakukan pembelian secara berlebihan karena stok nasional masih sangat aman. Keputusan final mengenai penyesuaian harga secara menyeluruh kemungkinan besar baru akan keluar setelah melihat perkembangan situasi geopolitik Mei.

“Semua akan aman selagi belum teridentifikasi ada aksi borong atau panic buying yang dilakukan oleh masyarakat luas,” pungkas Wisnu Wibowo. (GA/IJN).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here