
InfoJembrana.com | DENPASAR- Pemerintah Provinsi Bali mematangkan seluruh persiapan teknis menjelang ritual agung Karya Ida Bhatara Turun Kabeh tahun 2026. Gubernur Wayan Koster memimpin langsung rapat koordinasi lintas instansi guna memastikan kelancaran arus jutaan umat Hindu. Otoritas setempat memprediksi lonjakan kunjungan pemedek akan memenuhi kawasan suci Pura Agung Besakih selama bulan April mendatang.
Puncak prosesi keagamaan terbesar di Bali ini jatuh pada hari Kamis, 2 April 2026 mendatang. Seluruh rangkaian upacara telah berjalan sejak awal Maret dengan prosesi ritual Negtegang di area pura. Ida Bhatara akan bersemayam atau nyejer selama dua puluh satu hari penuh hingga tanggal 23 April 2026.
Pemerintah secara resmi menerbitkan Surat Edaran Nomor 2 Tahun 2026 sebagai panduan teknis operasional bagi masyarakat. Dokumen tersebut mengatur secara rinci mengenai pembagian jadwal persembahyangan untuk setiap kabupaten dan kota di Bali. Kebijakan ini bertujuan utama memecah konsentrasi massa agar tidak terjadi penumpukan pada satu waktu yang bersamaan.
Umat asal Kota Denpasar mendapatkan jadwal penganyar pertama pada tanggal 6 April 2026 sesuai ketetapan pemerintah. Kabupaten Badung mengikuti pada hari berikutnya sementara warga Kabupaten Klungkung akan melaksanakan persembahyangan tanggal 9 April. Jadwal berlanjut secara bergilir hingga Kabupaten Bangli menutup rangkaian penganyar wilayah Bali pada tanggal 20 April.
Panitia memberikan prioritas khusus bagi umat Hindu dari luar Pulau Bali untuk hadir pada akhir pekan. Pengunjung dari Sumatra, Jawa, hingga Kalimantan dapat memanfaatkan waktu hari Sabtu dan Minggu untuk melakukan ritual. Pengaturan jadwal yang ketat ini sangat krusial demi menjaga ketertiban serta kekhusyukan umat selama beribadah.
Sistem transportasi menuju kawasan Pura Besakih juga mengalami perubahan total melalui skema rekayasa lalu lintas terbaru. Bus rombongan dan kendaraan besar wajib masuk ke area parkir terpadu yang berlokasi di wilayah Kedungdung. Pemerintah menyediakan armada shuttle bus listrik secara gratis untuk mengantar penumpang dari parkiran menuju kawasan utama.
Kendaraan pribadi atau mobil kecil harus mengikuti arahan petugas menuju kantong parkir resmi di kawasan Wanasari. Pemedek akan turun di Area Manik Mas kemudian melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju pelataran Bencingah. Petugas juga menyediakan fasilitas kendaraan buggy khusus bagi para sulinggih, lansia, ibu hamil, serta penyandang disabilitas.
Pemerintah Provinsi Bali menekankan pentingnya menjaga kesucian pura melalui pengelolaan sampah mandiri oleh seluruh lapisan masyarakat. Setiap pamedek wajib membawa kantong sampah sendiri serta membawa pulang sisa makanan atau sampah dari lokasi. Larangan penggunaan plastik sekali pakai dan styrofoam berlaku sangat ketat selama rangkaian upacara agung ini berlangsung.
Petugas medis bersiaga penuh selama dua puluh empat jam pada setiap titik strategis di lingkungan pura. Fasilitas pendukung seperti ruang laktasi, tempat istirahat, hingga ATM Center tersedia lengkap untuk melayani kebutuhan pemedek. Sinergi antara TNI, Polri, dan Pemerintah Kabupaten Karangasem menjadi kunci utama dalam menjaga keamanan kawasan suci. (GA/IJN).

