InfoJembrana.com | JEMBRANA – Kabupaten Jembrana kembali mengukir prestasi gemilang di panggung budaya nasional. Dua mahakarya ikonik asal Bumi Makepung, busana pengantin Payas Dirga dan Kain Tenun Loloan, resmi menyandang status Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia tahun 2025.
Penetapan oleh Kementerian Kebudayaan RI ini menandai tonggak sejarah baru, menggenapkan total 10 karya budaya Jembrana yang kini mendapat perlindungan negara sebagai aset nasional.
Kedua karya yang lolos verifikasi ketat ini bukan sekadar benda fisik, melainkan narasi panjang sejarah Jembrana. Payas Dirga, lahir dari pernikahan Agung Putra Raja Jembrana VII pada 1940. Busana ini adalah “mozaik hidup” yang memadukan unsur Jawa, Cina, Melayu, dan Bugis, mencerminkan kejayaan Jembrana sebagai pusat perdagangan laut masa lalu.
Sedangkan Tenun Loloan, representasi kuat masyarakat Bugis-Melayu di Kecamatan Negara. Memegang teguh aturan adat, tenun ini hanya menggunakan motif tumbuhan dan geometris, mencerminkan kepribadian warga Loloan yang santun dan religius.
Keberhasilan ini tergolong luar biasa mengingat proses pengusulannya dilakukan secara mandiri oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jembrana tanpa alokasi anggaran khusus (non-budget).
Kepala Disparbud Jembrana, Anak Agung Komang Sapta Negara, mengungkapkan bahwa kunci keberhasilan ini terletak pada kolaborasi dan riset mendalam.
“Kami mengandalkan data Ceraken Kebudayaan Bali dan menggandeng Balai Pelestarian Kebudayaan untuk menyusun naskah akademik. Tantangan terbesarnya adalah menemukan narasumber kompeten yang bisa menjelaskan filosofi setiap detail karya tersebut,” ujar Sapta Negara.
Pemerintah Kabupaten Jembrana tidak lantas berpuas diri. Untuk tahun 2026, lima potensi budaya lainnya telah masuk dalam daftar usulan WBTB berikutnya, yakni, Jaje Bendu, Arja Sewagati, Arisan Dedara, Angklung Reyong dan Bahasa Melayu Loloan.
Langkah ini diharapkan tidak hanya mengamankan identitas leluhur dari klaim pihak luar, tetapi juga memperkuat posisi Jembrana sebagai destinasi pariwisata berbasis budaya yang autentik di Bali. CAK/IJN


