
InfoJembrana.com | JEMBRANA- Belasan ribu Pecalang dari seluruh pelosok Pulau Dewata berkumpul di Lapangan Puputan Margarana Renon guna menghadiri Gelar Agung Pengamanan. Mereka melakukan koordinasi skala besar untuk memastikan pelaksanaan Hari Raya Nyepi Caka 1948 tetap berjalan dengan sangat khidmat. Pertemuan ini menjadi krusial karena momen kesucian Nyepi jatuh bersamaan dengan malam Takbiran menyambut Idul Fitri 1447 Hijriah.
“Kita semua harus menunjukkan kepada dunia bahwa Bali merupakan laboratorium toleransi beragama yang paling nyata di Indonesia,” ujar Gubernur Bali I Wayan Koster saat memberikan arahan di Lapangan Renon, Minggu, 8 Maret 2026.
Pecalang harus mengedepankan cara-cara persuasif serta sopan santun dalam mengatur mobilisasi warga pada tingkat desa adat masing-masing. Pemerintah provinsi menitipkan pesan agar petugas keamanan adat tidak bersikap arogan saat menjalankan tugas suci di lapangan kelak. Sinergi antara adat dan aparat negara menjadi kunci utama guna mencegah gesekan yang muncul akibat potensi kesalahpahaman.
“Pecalang wajib menjaga kewibawaan desa adat dengan mengedepankan pendekatan humanis saat berinteraksi dengan masyarakat maupun wisatawan,” kata I Wayan Koster di hadapan barisan pecalang.
Umat Islam tetap dapat melaksanakan ibadah shalat Idul Fitri atau takbiran pada masjid terdekat dengan tetap mengikuti kesepakatan bersama. Warga yang beribadah hanya diperbolehkan berjalan kaki tanpa menggunakan pengeras suara keluar serta menggunakan pencahayaan yang sangat terbatas. Pengaturan teknis ini bertujuan menghormati catur brata penyepian tanpa mengurangi esensi kemenangan hari raya suci bagi umat muslim.
“Koordinasi ini memastikan saudara kita umat Islam tetap bisa beribadah dengan damai tanpa mengganggu kekhusyukan umat Hindu,” tuturnya.
Kapolda Bali bersama Pangdam IX/Udayana turut hadir memantau kesiapan personel keamanan adat dalam menghadapi fenomena langka dua hari raya tersebut. Majelis Desa Adat menekankan pentingnya komunikasi dua arah antara tokoh lintas agama guna meredam potensi provokasi dari pihak luar. Kehadiran para tokoh penting ini memberikan jaminan keamanan serta ketenangan batin bagi seluruh penduduk yang menetap di wilayah Bali.
“Pemerintah dan seluruh jajaran keamanan akan mendukung penuh tugas pecalang demi menjaga kondusivitas wilayah selama rangkaian hari suci,” tegas Koster.
Gelar Agung di pusat kota Denpasar tersebut sekaligus menjadi simbol kuatnya persaudaraan antarumat beragama yang sudah terjalin berabad-abad. Masyarakat diharapkan tetap tenang dan mengikuti seluruh arahan dari pihak otoritas resmi guna mewujudkan Bali yang ajeg serta harmonis. Kesuksesan pengamanan ini akan menjadi bukti nyata bahwa perbedaan keyakinan bukan merupakan penghalang untuk hidup berdampingan secara damai.
“Acara hari ini adalah pesan simbolik bahwa toleransi di Bali berdiri tegak di atas pondasi seni budaya dan agama,” jelasnya.
Pemerintah terus memantau persiapan sarana prasarana pendukung demi kelancaran tugas para pecalang pada setiap gerbang masuk desa adat. Keterlibatan aktif generasi muda dalam satuan pengamanan adat juga mendapatkan apresiasi tinggi sebagai bentuk pelestarian jati diri masyarakat Bali. Penutupan akses komunikasi data serta layanan transportasi udara juga menjadi bagian integral dari pengamanan total selama dua puluh empat jam.
“Mari kita tunjukkan bahwa Bali mampu mengelola keberagaman dengan bijaksana melalui pelaksanaan Nyepi dan Takbiran yang sangat damai,” pungkasnya. (GA/IJN).

