Gubernur Koster Tegaskan Pemerintah Wajib Fasilitasi Para Sulinggih, Ini Alasannya…

0
10
Gubernur Bali Wayan Koster tegaskan pemerintah wajib memfasilitasi kebutuhan Sulinggih demi menjaga kelestarian budaya dan spiritualitas Bali. (ist).

InfoJembrana.com | DENPASAR- Gubernur Bali Wayan Koster menyatakan bahwa pemerintah memiliki kewajiban moral untuk memberikan perlindungan serta perhatian penuh kepada para Sulinggih. Ia menilai peran pemuka agama Hindu tersebut sangat vital dalam menjaga keselamatan serta kedamaian Pulau Dewata secara spiritual atau niskala. Langkah ini merupakan bagian dari upaya besar pemerintah provinsi untuk memperkuat nilai-nilai adat yang menjadi fondasi utama kehidupan masyarakat.

“Pemerintah sebagai Guru Wisesa berkewajiban memberikan perlindungan dan memfasilitasi segala kebutuhan para Sulinggih dalam menjalankan tugas sucinya,” ujar Gubernur Wayan Koster di Sekretariat SKHDN Pusat, Denpasar, Minggu, 22 Februari 2026.

Keberadaan para Sulinggih dianggap sebagai pilar utama yang menjaga dresta atau adat kebiasaan Bali tetap harmonis. Mereka memiliki tanggung jawab besar dalam membimbing umat serta memelihara tata cara upacara keagamaan sesuai warisan leluhur. Pemerintah berkomitmen memberikan dukungan fasilitas agar para tokoh suci tersebut dapat melaksanakan swadarma mereka dengan tenang.

“Para Sulinggih memiliki tugas sangat berat di bidang ritual dalam menjaga kedamaian serta keselamatan Bali secara niskala,” kata Wayan Koster.

Pembangunan Bali harus senantiasa mengedepankan keseimbangan antara kemajuan fisik atau sekala dengan kekuatan spiritual atau niskala. Visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali menjadi landasan utama bagi pemerintah dalam mensosialisasikan nilai etika dan moral. Sulinggih berperan penting dalam menyebarkan nilai toleransi yang menjadi cara hidup masyarakat Bali dalam kehidupan sehari-hari.

“Bali dibedakan oleh kebudayaan yang dimiliki dan dijaga hingga saat ini melalui peran aktif para tokoh suci,” tutur Wayan Koster menekankan pentingnya jati diri lokal di tengah arus globalisasi.

Koster mengingatkan bahwa Bali sama sekali tidak memiliki sumber daya alam yang melimpah seperti provinsi lainnya. Kekuatan magnet utama Pulau Seribu Pura terletak pada kekayaan budaya, adat, serta istiadat yang sangat unik. Beliau melarang krama Bali mengimpor budaya asing yang berpotensi mematikan kebiasaan lokal dan merusak identitas bangsa.

“Perekonomian Bali tumbuh dari kebudayaan sehingga kita harus menjaga adat istiadat dengan kekuatan yang sangat terarah,” jelas Wayan Koster mengenai strategi keberlanjutan ekonomi pariwisata berbasis budaya.

Adat istiadat yang luhur harus terus berkembang melalui tatanan yang penuh sopan santun serta norma kesantunan timur. Para Sulinggih harus konsisten menegakkan dresta Bali agar tidak meluntur akibat pengaruh perkembangan zaman yang sangat masif. Keterlibatan seluruh komponen masyarakat menjadi kunci utama dalam menghalau berbagai ancaman budaya yang datang dari luar.

“Jangan sampai kita kehilangan jati diri dan kebiasaan hidup lantaran terlalu banyak mengadopsi budaya asing yang tidak relevan,” ungkap Koster.

Manggala Uttama Sabha Kertha Hindu Dharma Nusantara menyatakan konsistensi para Sulinggih dalam menjaga kesucian Bali secara spiritual. Mereka siap mendukung penuh setiap program pemerintah yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan rakyat tanpa meninggalkan nilai keagamaan. Sinergi antara pemerintah dan kaum rohaniwan akan membawa kedamaian berpikir serta berbuat baik dalam menjaga Bali.

“Keseimbangan sekala dan niskala akan membawa kita semua pada kedamaian dalam berpikir serta berbuat yang baik,” pungkasnya. (GA/IJN).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here