Menyesap Lembutnya Kue Kopyor, Primadona Takjil dari Ujung Barat Hanya Ada Saat Ramadan

0
14
Gambar ini hanya ilustrasi dari Kopyor khas Loloan.

InfoJembrana.com | JEMBRANA- Bayangkan Anda sedang duduk di tepi jalanan Kampung Loloan yang tenang saat matahari perlahan turun ke ufuk barat, sementara aroma wangi daun pisang kukus mulai menggelitik hidung. Di tengah riuhnya persiapan berbuka, ada satu primadona yang selalu menjadi rebutan warga hingga pelancong: Kue Kopyor. Bagi siapa pun yang sedang melintasi Jembrana saat bulan suci, melewatkan bungkusan hijau kecil ini rasanya seperti kehilangan potongan puzzle terpenting dalam petualangan kuliner Ramadan di Bali.

Takjil khas Loloan Jembrana yang satu ini memang bukan sekadar makanan pembuka biasa. Kue kopyor adalah identitas sekaligus warisan budaya masyarakat Kampung Loloan, sebuah kawasan bersejarah di Jembrana yang kental dengan nuansa melayu-bali. Meskipun namanya “kopyor”, jangan salah sangka, karena ia tidak hanya mengandalkan kelapa. Ia adalah perpaduan harmonis antara potongan roti tawar yang lembut, siraman santan kental yang gurih, serta manisnya gula pasir yang menyatu dalam balutan tepung beras.

Setiap gigitannya menawarkan tekstur yang unik dan kaya. Di dalamnya, Anda akan menemukan butiran mutiara yang kenyal serta serutan kelapa muda yang memberikan sensasi “kres” di tengah kelembutan adonan. Rahasia kelezatannya terletak pada proses pengukusan menggunakan daun pisang segar. Uap panas yang bertemu daun pisang menciptakan aroma khas yang membangkitkan selera, sebuah wangi alami yang tidak bisa digantikan oleh kemasan modern apa pun.

Bagi wisatawan yang terbiasa dengan hiruk pikuk Bali Selatan, berkunjung ke Loloan saat sore hari memberikan perspektif berbeda. Di sini, Anda bisa melihat deretan warung takjil yang memajang tumpukan kue kopyor dengan harga yang sangat ramah di kantong, biasanya hanya sekitar Rp3.000 per bungkus. Tidak sedikit warga yang sengaja menyajikannya dalam keadaan dingin setelah keluar dari lemari es. Rasanya? Luar biasa segar dan mampu menghapus dahaga setelah seharian berpuasa.

Menariknya, seiring perkembangan zaman, kue kopyor kini tampil lebih berwarna dengan berbagai variasi rasa. Anda mungkin akan menemukan versi yang diberi potongan nangka kuning yang harum atau tambahan topping kekinian lainnya. Namun, bagi para pencinta kuliner orisinal, rasa klasik tetap menjadi juara yang tak tergantikan. Kehadirannya yang hanya masif saat Ramadan membuat kue ini menjadi kuliner eksklusif yang selalu dirindukan setiap tahunnya.

Jadi, jika agenda perjalanan Anda membawa Anda menyisir jalanan Jembrana, pastikan untuk menepi sejenak di Kampung Loloan. Membeli beberapa bungkus kue kopyor bukan hanya soal memanjakan lidah, tapi juga merayakan keragaman tradisi kuliner di Pulau Dewata. Rasakan kelembutan, aroma, dan keramahan lokal yang terbungkus rapi dalam setiap lipatan daun pisangnya. Sebuah pengalaman sederhana, namun sangat berkesan bagi siapa saja yang merayakan hangatnya kebersamaan di bulan Ramadan. (GA/IJN).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here