Darurat Sampah Bali, Perusahaan Global Berebut Investasi Energi Hijau Danantara Rp 3 Triliun

0
37
Ilustrasi Sampah- Danantara segera mengeksekusi proyek PSEL senilai Rp 3 triliun di Bali untuk mengatasi krisis sampah melalui teknologi energi hijau yang mutakhir. (ist).

InfoJembrana.com | JEMBRANA- Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara segera mengeksekusi proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik di Pedungan. Pemerintah menargetkan peletakan batu pertama fasilitas infrastruktur hijau ini akan berlangsung pada Maret 2026 mendatang. Pembangunan pusat pengolahan limbah ini menempati lahan seluas enam hektare pada bekas kawasan Restoran Akame.

“Denpasar menjadi wilayah prioritas pertama dari empat lokasi proyek strategis nasional untuk mengatasi darurat sampah melalui teknologi ramah lingkungan,” ujar Lead of Waste-to-Energy Danantara Indonesia, Fadli Rahman, dilanisr dari berbagai sumber.

Proyek strategis ini memicu persaingan ketat puluhan perusahaan raksasa dari Cina, Jepang, hingga Prancis. Sebanyak 24 investor global kini memperebutkan posisi sebagai badan usaha pengembang utama pada fasilitas tersebut. Panitia lelang mewajibkan setiap pemenang tender internasional untuk membentuk konsorsium bersama perusahaan mitra lokal.

“Kami mewajibkan adanya transfer teknologi kepada perusahaan dalam negeri melalui skema kemitraan yang sangat ketat dan transparan,” kata Fadli Rahman menegaskan.

Pemerintah memproyeksikan nilai investasi satu fasilitas pengolahan sampah ini mencapai angka Rp 3 triliun. Danantara akan menyetorkan modal sebesar 30 persen sementara sisa pendanaan berasal dari kredit sindikasi perbankan. Skema pembiayaan tersebut mencerminkan kepercayaan sektor jasa keuangan terhadap prospek bisnis energi baru terbarukan.

“Struktur pendanaan proyek ini melibatkan perbankan nasional untuk memperkuat sinergi antara investasi negara dan pembiayaan komersial yang akuntabel,” tutur Fadli Rahman.

Fasilitas PSEL Pedungan dirancang khusus untuk mampu mengolah sampah hingga 1.200 ton setiap hari. Denpasar dan Badung akan memasok limbah padat secara berkelanjutan untuk menjamin operasional mesin insinerator. Pembangkit ini akan menghasilkan energi listrik sebesar 157 GWh per tahun bagi ribuan rumah tangga.

“Produksi listrik dari pengolahan limbah ini akan kami jual secara langsung kepada PT PLN dengan harga kontrak yang kompetitif,” ungkap Fadli Rahman.

Pemerintah menargetkan pengumuman pemenang lelang badan usaha pelaksana akan selesai pada akhir Februari 2026. Sejumlah perusahaan asal Tiongkok seperti Chongqing Sanfeng dan Wangneng Environment kini mendominasi daftar calon kuat. Mereka membawa rekam jejak panjang dalam mengoperasikan teknologi pembakaran sampah modern pada berbagai negara Asia.

“Seluruh calon mitra harus melewati proses penyaringan ketat guna memastikan aspek legalitas serta kapabilitas operasional mereka tetap terjaga,” jelas Fadli Rahman.

Munculnya proyek PSEL ini memberikan sentimen positif bagi pergerakan harga saham emiten energi hijau. Emiten seperti PT Multi Hanna Kreasindo dan PT TBS Energi Utama mencatatkan penguatan signifikan. Investor melihat peluang besar pada sektor pengelolaan limbah yang kini menjadi prioritas utama pembangunan nasional.

“Gairah pasar modal menunjukkan bahwa sektor ekonomi hijau memiliki potensi pertumbuhan ekonomi yang sangat cerah bagi masa depan,” pungkas Fadli Rahman. (GA/IJN).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here