
InfoJembrana.com | JEMBRANA- Pasar komoditas global mengalami guncangan hebat akibat kejatuhan harga emas yang sangat drastis pada akhir Januari dua ribu dua puluh enam. Logam mulia ini mencatatkan koreksi harian terdalam sejak empat dekade terakhir setelah sebelumnya sempat menyentuh rekor harga tertinggi. Para pemilik modal segera melakukan aksi ambil untung secara masif sebagai respons spontan terhadap ketidakpastian kebijakan moneter Amerika Serikat yang berubah sangat mendadak.
Penurunan tajam tersebut terjadi hanya berselang satu hari setelah komoditas berharga ini menyentuh puncak kejayaan sepanjang sejarah perdagangannya di pasar spot. Volatilitas ekstrem pada pasar internasional telah menghancurkan ekspektasi para spekulan yang mengharapkan tren kenaikan harga akan terus berlanjut hingga akhir tahun. Kepanikan investor semakin memuncak saat nilai aset mereka menyusut drastis dalam hitungan jam akibat pergeseran sentimen ekonomi dunia yang sangat liar.
Pengumuman Presiden Donald Trump mengenai calon kuat pimpinan bank sentral Amerika Serikat menjadi pemicu utama kerusuhan di lantai bursa komoditas dunia. Penunjukan Kevin Warsh untuk menggantikan Jerome Powell memberikan sinyal kuat akan adanya perubahan radikal pada arah kebijakan moneter negara paman sam. Pasar mengantisipasi sosok pimpinan baru ini akan menerapkan kebijakan yang jauh lebih keras terhadap laju inflasi domestik melalui instrumen suku bunga.
Indeks dolar Amerika Serikat segera bangkit dari posisi terendahnya selama empat tahun terakhir sehingga menekan daya beli investor global secara signifikan. Kenaikan nilai imbal hasil obligasi pemerintah membuat instrumen investasi emas menjadi kurang menarik karena tidak memberikan keuntungan bunga secara periodik kepada pemegangnya. Analisis teknikal menunjukkan bahwa potensi penurunan harga masih mungkin terjadi hingga pasar mencapai titik jenuh jual yang jauh lebih sehat secara fundamental.
Ketegangan geopolitik di wilayah Timur Tengah sebenarnya masih memberikan dukungan fundamental yang cukup kuat bagi harga emas sebagai aset pelindung nilai. Namun arus modal keluar dari instrumen logam mulia tetap mendominasi pasar akibat perubahan prospek kebijakan ekonomi jangka pendek dari Amerika Serikat. Beberapa bank sentral negara maju mulai mengurangi laju pembelian cadangan emas mereka di tengah tingginya volatilitas harga yang sedang berlangsung saat ini.
Harga emas batangan produksi dalam negeri ikut terseret jatuh mengikuti pergerakan negatif harga komoditas pada pasar spot internasional secara langsung dan cepat. Penurunan harga harian ini menjadi catatan paling buruk bagi para kolektor emas fisik dalam rentang waktu empat puluh tiga tahun terakhir di Indonesia. Investor ritel harus tetap waspada menghadapi fase koreksi harga yang diperkirakan akan berlangsung cukup lama hingga memasuki masa transisi pada bulan Mei mendatang.
Sejumlah manajer investasi menyarankan para nasabah untuk tidak terburu-buru melakukan pembelian kembali sebelum kondisi fundamental pasar benar-benar stabil secara utuh. Pandangan teknikal menetapkan target penurunan yang sangat realistis pada kisaran empat ribu enam ratus dolar per troy ounce untuk menyeimbangkan kembali tren. Strategi investasi yang bersifat konservatif menjadi pilihan paling bijak untuk melindungi nilai kekayaan dari hantaman badai fluktuasi pasar modal serta komoditas global.
Meskipun harga emas dunia mengalami kehancuran dalam sepekan terakhir namun secara akumulasi bulanan aset ini sebenarnya masih mencatatkan rapor yang cukup positif. Ketahanan harga emas di masa depan akan sangat bergantung pada agresivitas kebijakan suku bunga yang akan diambil oleh nakhoda baru lembaga The Fed. Koordinasi global antara pemegang kebijakan fiskal dan moneter tetap menjadi faktor penentu utama bagi pergerakan arah harga komoditas strategis pada masa yang akan datang. (GA/IJN).

