InfoJembrana.com |JEMBRANA- Pengalaman mendaki Gunung Bulusaraung bagi Rezky dan Muslimin berubah menjadi memori kelam yang sulit terhapus dari ingatan mereka. Keduanya sedang menikmati perjalanan ketika suara deru mesin pesawat yang sangat dekat memecah kesunyian hutan di ketinggian tersebut. Dalam sekejap mata, sebuah pemandangan mengerikan muncul saat pesawat berukuran besar itu menghantam dinding batu dan menciptakan bola api raksasa.
“Kami benar-benar terpaku ketakutan karena jarak ledakan itu sangat dekat dengan posisi kami berdiri saat itu,” tutur Rezky mengenang peristiwa nahas pada Minggu sore tersebut.
Insting bertahan hidup segera mengambil alih kesadaran mereka untuk menjauh dari lokasi puing-puing yang masih membara. Ketakutan akan adanya ledakan tangki bahan bakar susulan memaksa kedua pemuda ini lari tunggang langgang mencari perlindungan di balik rimbunnya semak. Mereka bahkan tidak mampu mengeluarkan ponsel pintar untuk mendokumentasikan kejadian tersebut karena tangan yang terus gemetar hebat akibat syok berat.
“Pikiran untuk merekam gambar sama sekali tidak muncul karena fokus kami hanya bagaimana cara menyelamatkan diri dari api,” jelasnya mengenai kondisi psikologis yang mencekam di titik koordinat kecelakaan.
Meskipun dalam kondisi lemas, mereka tetap berupaya mengumpulkan informasi penting mengenai identitas maskapai yang mengalami kecelakaan tersebut. Keberanian muncul saat mereka melihat dokumen-dokumen dinas serta logo kementerian yang tercecer di antara dahan pepohonan yang hangus terbakar. Langkah kaki mereka segera bergegas turun menuju posko pendakian terbawah guna memberikan kesaksian paling awal kepada otoritas penanggulangan bencana setempat.
Identitas pesawat ATR 42-500 yang menabrak lereng selatan Gunung Bulusaraung mulai terkuak melalui temuan fisik oleh dua orang saksi mata. Rezky dan rekannya berhasil mengamankan potongan bodi pesawat yang secara jelas menampilkan lambang resmi Kementerian Kelautan dan Perikanan. Temuan krusial ini memperkuat laporan mengenai adanya misi kedinasan yang sedang berjalan saat burung besi tersebut kehilangan kontak dengan menara pengawas.
“Beberapa dokumen dan serpihan badan pesawat yang kami temukan memiliki logo resmi kementerian serta identitas instansi kelautan,” ungkap Rezky saat menyerahkan barang bukti kepada petugas.
Pihak kementerian pusat telah merilis informasi resmi bahwa tiga orang staf terbaik mereka masuk dalam manifes penerbangan tersebut. Penemuan dokumen yang berhamburan di lokasi membantu tim investigasi awal untuk memastikan jalur terbang terakhir sebelum benturan terjadi. Puing-puing yang tertutup abu pembakaran tersebut kini berada dalam pengawasan ketat pihak kepolisian guna menghindari pengambilan barang secara ilegal oleh warga.
“Kami membawa turun beberapa barang bukti tersebut satu jam setelah kejadian agar proses identifikasi bisa segera berjalan,” tuturnya mengenai upaya penyelamatan dokumen penting dari area kebakaran hutan.
Kedua saksi ini menjadi kunci utama bagi tim SAR gabungan untuk menentukan titik nol lokasi jatuhnya pesawat secara lebih akurat. Penjelasan mereka mengenai arah datangnya pesawat sangat membantu analisis awal Komite Nasional Keselamatan Transportasi dalam menyusun kronologi kecelakaan. Kini seluruh barang bukti telah berpindah tangan ke pihak berwenang guna menjalani pemeriksaan laboratorium forensik lebih lanjut di markas kepolisian terdekat. (GA/IJN).


