
InfoJembrana.com | JEMBRANA- Keberhasilan tim penyelamat gabungan dalam mengangkat satu korban dari lokasi reruntuhan pesawat menandai dimulainya fase akhir operasi pencarian di Gunung Bulusaraung. Korban tersebut ditemukan berada di titik yang sangat sulit dijangkau sehingga membutuhkan keahlian khusus dari satuan vertical rescue TNI dan Basarnas. Proses identifikasi awal akan segera dilakukan oleh tim medis kepolisian guna memastikan data korban sesuai dengan daftar penumpang yang telah dirilis sebelumnya.
“Satu orang korban sudah berhasil dievakuasi melalui jalur Balocci karena letaknya memungkinkan ambulans untuk merapat ke lokasi darat,” ujar Mayjen TNI Bangun Nawoko, Minggu, 18 Januari 2026.
Sinergi antara prajurit TNI AU, AirNav Indonesia, dan relawan lokal menjadi kekuatan utama dalam menaklukkan rintangan alam yang begitu ganas di lokasi jatuhnya pesawat. Helikopter TNI tetap bersiaga di udara guna memberikan bantuan logistik serta pemantauan visual dari ketinggian bagi rekan-rekan mereka yang bekerja di dinding tebing. Keseluruhan awak dan penumpang yang berjumlah sepuluh orang tetap menjadi prioritas utama pencarian meskipun hari mulai beranjak gelap.
“Proses evakuasi dilakukan menggunakan teknik khusus oleh tim Basarnas dengan bantuan alat pelindung diri yang sangat lengkap dan sesuai standar,” jelasnya mengenai prosedur keamanan yang diterapkan petugas lapangan.
Pihak keluarga kini mulai berkumpul di posko utama guna menantikan perkembangan terbaru mengenai nasib anggota keluarga mereka yang masih berada di lokasi kejadian. Pemerintah daerah memastikan bahwa seluruh sarana kesehatan dan tenaga ahli identifikasi sudah siap menerima kedatangan para korban di rumah sakit rujukan. Operasi ini akan terus berlanjut hingga seluruh bagian pesawat serta individu yang berada di dalamnya berhasil diamankan dan dipindahkan ke tempat yang lebih layak.
Struktur geologi Gunung Bulusaraung yang terdiri dari dinding-dinding karst tegak lurus menjadi rintangan paling mematikan bagi operasi kemanusiaan awal tahun ini. Para personel Advance Jungle Unit harus merayap di antara celah bebatuan tajam guna menjangkau reruntuhan pesawat Indonesia Air Transport yang tersangkut di ketinggian. Kondisi permukaan tebing yang licin akibat sisa air hujan membuat setiap pergerakan tim evakuasi memiliki risiko jatuh yang sangat tinggi ke dasar jurang.
“Tim rescue harus menggunakan peralatan descender serta tali khusus guna menuruni tebing curam yang sudutnya hampir tegak lurus,” kata Pangdam XIV/Hasanuddin, Mayjen TNI Bangun Nawoko, Minggu, 18 Januari 2026.
Sistem katrol manual terpasang pada pepohonan besar di atas tebing sebagai penyangga beban utama saat mengangkat tubuh korban dari kedalaman. Tim gabungan memilih jalur evakuasi melalui wilayah administrasi Balocci guna memangkas durasi pengiriman jenazah menuju fasilitas medis terdekat di Kabupaten Pangkep. Strategi ini diambil karena akses jalan setapak di lereng selatan jauh lebih bersahabat bagi mobilitas petugas yang mengusung tandu darurat.
“Medan yang kami hadapi memiliki kemiringan sangat ekstrem sehingga teknik rappeling menjadi satu-satunya pilihan paling rasional saat ini,” tuturnya saat menjelaskan strategi taktis tim di area pencarian.
Keberadaan kabut pegunungan yang sering datang tiba-tiba juga memaksa tim penyelamat untuk menghentikan operasi secara temporer pada jam-jam tertentu. Koordinasi radio antar-personel di bawah jurang dengan tim pemantau di puncak bukit menjadi kunci keselamatan utama selama proses pengangkatan berlangsung. Pihak berwenang menargetkan seluruh rangkaian evakuasi dapat tuntas dalam waktu singkat sebelum cuaca buruk kembali melanda kawasan Taman Nasional tersebut. (GA/IJN).

