Rahasia Desa Manggissari: Di Mana Pohon Menjadi Pintu dan Syukur Menjadi Tradisi

0
127
Gambar hanya Ilustrasi dari Bunut Bolong yang ada di Desa Manggissari Kecamatan Pekutatan, Jembrana.

InfoJembrana.com | JEMBRANA- Berdiri di ketinggian Puncak Tirta saat fajar menyingsing terasa seperti sedang berpijak di atap dunia, di mana gumpalan awan putih seolah menjadi lantai bagi perbukitan hijau Jembrana. Dari titik ini, garis Pantai Pekutatan nampak seperti pita biru di kejauhan, menciptakan panorama sinematik yang memanjakan mata sekaligus menyejukkan batin. Desa Manggissari telah berhasil mengubah wajah agrarisnya menjadi sebuah pelarian autentik yang menggabungkan kemewahan alam pegunungan dengan harum aroma kopi yang baru dipetik.

Di perbatasan bukit Jembrana, sebuah pohon Bunut tua dengan lubang alami di tengah batangnya berdiri tegak, seolah menjadi gerbang mistis yang memisahkan hiruk-pikuk dunia dengan keasrian perbukitan. Inilah Bunut Bolong, ikon Wisata Bali Barat yang bukan sekadar objek foto, melainkan penjaga spiritual Desa Manggissari yang siap menyambut Anda dengan aura ketenangan yang mendalam.

Namun, lorong pohon tersebut barulah babak pembuka. Tantang kendaraan Anda mendaki lebih tinggi menuju Puncak Tirta, sebuah destinasi yang menawarkan sensasi “Negeri di Atas Awan”. Pada pagi hari, kabut putih menyelimuti lembah, menyisakan puncak-puncak hijau yang menyembul malu-malu di hadapan Anda. Dari rumah pohon yang tertata apik, mata Anda akan dimanjakan oleh gradasi pemandangan yang spektakuler—mulai dari lebatnya hutan tropis, rapihnya perkebunan warga, hingga garis Pantai Pekutatan yang berkilau di kejauhan.

Legenda Manggis dan Kekuatan Tradisi Manggissari bukan hanya soal visual yang estetik; desa ini adalah tempat di mana akar sejarah tumbuh sangat dalam. Nama desa ini diambil dari pohon manggis legendaris yang konon hanya berbunga sepanjang tahun tanpa pernah berbuah, sebuah simbol keunikan alam yang diabadikan sejak tahun 1928. Budaya syukur di sini pun tak pernah luntur. Melalui tradisi Ngusaba di Pura Subak Puncaksari, warga berjalan kaki sejauh tiga kilometer sambil menjunjung tegteg berisi durian, manggis, dan kopi hasil bumi mereka. Sebuah parade syukur yang akan membuat siapa pun tersentuh oleh ketulusan warganya.

Kemandirian Desa dan Harum Kopi Pegunungan Meski berada di ketinggian, Manggissari adalah bukti nyata desa mandiri yang dinamis. Melalui sistem Baga Utsawa Praduwen Desa Adat (Bupda) yang telah dinobatkan sebagai percontohan tingkat provinsi, desa ini sukses mengelola ekonomi rakyatnya. Wisatawan kini bisa menikmati hasil bumi langsung dari sumbernya. Bayangkan menyeruput kopi bubuk hasil petik sendiri atau mencicipi keripik pisang hangat sambil duduk di warung tradisional Puncak Tirta. Kemewahan autentik ini adalah hasil kolaborasi apik Kelompok Tani dan Karang Taruna setempat.

Pelarian Autentik bagi Pencari Makna Bagi pengguna sosial media yang mendambakan konten dengan “jiwa”, Manggissari menyediakan segalanya. Dari aura sakral di Pura Beji Puseh lan Desa hingga kesegaran tersembunyi Air Terjun Juwuk Manis, setiap sudutnya bercerita tentang harmoni manusia dengan alam. Anda diajak untuk melihat Bali dengan kacamata yang berbeda; di mana pembangunan tetap memuliakan tradisi, dan pariwisata dikelola secara mandiri oleh masyarakat adat.

Berkunjung ke Manggissari adalah perjalanan untuk menemukan kembali koneksi kita dengan bumi. Di sini, kebahagiaan sejati ditemukan dalam hal-hal praktis: udara yang sejuk, senyuman petani yang tulus, dan rasa syukur yang mengalir dari lorong Bunut hingga ke puncak awan. Sudahkah Anda siap menjemput ketenangan di atap hijau Jembrana ini? (GA/IJN).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here