InfoJembrana.com | JEMBRANA – Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Kabupaten Jembrana bergerak cepat menyikapi kasus rudapaksa yang menimpa seorang siswi SMP oleh tetangganya, GS (45), dari Kecamatan Melaya. Saat ini korban masih sangat mengalami trauma berat pasca kejadian tersebut.
Jumat 21 November 2025 sore, staf Dinas PPPA dan UPTD PPA Jembrana mengunjungi korban dan keluarga untuk memberikan pendampingan dan bantuan. Korban dilaporkan mengalami trauma berat.
“Korban masih belum stabil. Dia masih suka nangis dan tidur gelisah,” jelas Kepala UPTD PPA Jembrana, Ida Ayu Sri Utami Dewi, Sabtu 22 November 2025.
Sebagai tindak lanjut, pendampingan psikolog akan segera diberikan. “Pendampingan psikolog akan dilakukan minggu depan sebelum Hari Raya Kuningan,” tambah Utami Dewi.
Sementara itu, pihak Polres Jembrana telah menahan tersangka dan terus mendalami kasus kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur ini. Kasus ini menambah panjang daftar kekerasan pada anak di Jembrana yang kini telah mencapai 33 kasus, meski sosialisasi masif telah dilakukan Dinas PPPA.
Diberitakan sebelumnya, Jembrana kembali diguncang ulah biadab tindak kekerasan seksual anak di bawah umur. Korban sebut saja Bunga (16), seorang siswi salah satu Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kecamatan Melaya, Jembrana. Korban diduga menjadi korban rudapaksa pelaku berinisial GS (45), yang merupakan tetangga dekat korban.
Dari informasi yang berhasil dihimpun tim IJN News, dugaan aksi biadab pelaku ini terjadi pada Selasa sore, 18 November 2025, sekitar pukul 18.00 wita. Saat itu, korban sedang di rumah seorang diri, karena kedua orangtua dan adiknya pergi mengantar banten (sarana upacara) ke rumah neneknya.
Situasi tersebut, kemudian dimanfaatkan pelaku untuk mendatangi rumah korban. Pelaku kemudian mengajak korban pergi ke kebun milik pelaku sekitar 50 meter dari rumah korban. Pelaku berpura-pura meminta korban untuk menunjukan anak sapi milik bapaknya yang berada di kebunnya.
Alih-alih ingin melihat anak sapi di kebun, pelaku malah merayu dan memaksa korban meladeni nafsu bejatnya. Kejadian tersebut akhirnya diketahui oleh orangtua korban, yang mendapati korban dalam kondisi menangis saat tiba di rumah. CAK/IJN


