Menyusuri Jejak Pelaut Bugis, Sejarah Loloan, Dari Pelabuhan Dagang Menjadi Pusat Penyebaran Islam

0
220
Suasana malam hari di Loloan Timur. (ig @doddysudibia).

InfoJembrana.com | JEMBRANA- Bayangkan sebuah permukiman Islam terbesar yang berdiri megah di jantung Pulau Dewata, Bali, penuh dengan warisan unik. Kisah Kampung Loloan Jembrana dimulai dari sebuah pelayaran panjang dan penuh tantangan pada tahun 1669 silam. Sekelompok orang Bugis yang beragama Islam terpaksa melarikan diri dari kejaran para penjajah kolonial saat itu. Mereka akhirnya berhasil berlabuh dengan selamat di muara Sungai Ijo Gading, sebuah tempat yang kala itu dikenal sebagai Kampung Bajo.

“Loloan dikenal dengan percampuran budaya Bugis, Melayu, dan Bali, menghasilkan identitas kultural yang sangat unik,” demikian inti dari narasi historis yang diwariskan turun-temurun di kampung tersebut.

Awal Mula Berdirinya Bandar Pancoran

Raja Jembrana saat itu, I Gusti Arya Pancoran IV, memberikan izin istimewa kepada rombongan pelaut Bugis untuk menetap di sekitar wilayah Tibu Bunter. Pemimpin pasukan Bugis yang gagah berani, Daeng Nahkoda, kemudian mendirikan wilayah tersebut sebagai Bandar Pancoran yang kemudian menjadi Kampung Pancoran. Wilayah ini berubah menjadi sentra utama aktivitas perdagangan serta perekonomian masyarakat lokal Jembrana sejak lama. Mereka menjual berbagai Produk UMKM lokal seperti tenun dan songket hingga menembus Palembang dan Singapura.

Loloan Menjadi Pusat Penyebaran Islam

Bandar Pancoran yang ramai berangsur-angsur berkembang pesat menjadi Pusat Penyebaran Islam utama di seluruh wilayah Jembrana. Pada sekitar tahun 1800, seorang ulama besar bernama Syarif Abdullah bin Yahya Al Qadry tiba dan mengambil peran penting memimpin komunitas tersebut. Tokoh agama yang dikenal sebagai Syarif Tua ini mendirikan Desa Loloan dan mengembangkan pengajaran Islam yang sangat damai. Bukti sejarah kokoh Sejarah Loloan adalah berdirinya Masjid Jami’ Loloan Timur sejak tahun 1848 yang masih berfungsi hingga sekarang.

“Pemerintah Daerah saat ini sedang berupaya keras mengembangkan Loloan sebagai desa wisata yang menampilkan keunikan budaya dan agamanya,” ujar salah seorang tokoh pemuda lokal yang terlibat dalam proyek pengembangan kampung ini.

Warisan Khas Rumah Panggung Loloan

Warisan budaya paling menonjol dari Kampung Loloan Jembrana adalah keberadaan Rumah Panggung Loloan kuno yang masih tegak berdiri di tengah permukiman. Rumah-rumah tradisional dengan arsitektur Melayu-Bugis ini menjadi simbol kuat percampuran budaya yang harmonis dengan lingkungan Bali. Selain itu, terdapat makam-makam tua yang turut menjadi bagian penting dari penanda Sejarah Loloan dan keberadaan para pendahulu. Warisan kultural ini memperlihatkan nilai sejarah tinggi dari Pusat Penyebaran Islam tersebut.

“Mereka memegang teguh konsep persaudaraan atau menyame braye dengan seluruh masyarakat Bali lainnya yang beragama Hindu,” penekanan penting mengenai toleransi dan keharmonisan hidup di Kampung Loloan Jembrana di tengah mayoritas Hindu.

Saat ini, Kampung Loloan Jembrana terus berupaya dikembangkan menjadi destinasi desa wisata andalan yang menawarkan perpaduan budaya Bugis, Melayu, dan Bali yang sangat langka. Upaya ini bertujuan memperkenalkan kekayaan Sejarah Loloan serta Rumah Panggung Loloan kepada wisatawan domestik maupun mancanegara. Keunikan Loloan sebagai Pusat Penyebaran Islam terbesar di Jembrana membuktikan kerukunan umat beragama di Bali terjalin sangat erat dan harmonis. (GA/IJN).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here