Dari Kalijaya menjadi Baluk, Kisah Dua Sungai yang Sakti dan Lahirnya Desa di Jembrana

0
784
Patung di Desa Baluk, Patung Keluarga Bali Lestrari. Atau mempertahankan empat anak.

INFOJEMBRANA.COM– Jembrana, di sisi barat Pulau Bali, menyimpan banyak sejarah. Salah satunya ada pada asal usul Desa Baluk. Desa ini dulunya punya nama lain. Namanya adalah Kalijaya. Kisah perubahan nama ini sangat unik. Ia berawal dari perkelahian dua sungai.

Menurut penuturan orang tua penglingsir, perkelahian itu sangat sengit. “Perkelahian terjadi antara dua orang. Mereka hampir sama rupanya dan kekuatannya. Pertarungan berhenti tanpa pemenang,” ujarnya seperti dilansir dari desabaluknegarajembrana.blogspot.com. Kejadian itu menghasilkan nama Kalijaya.

Perkelahian itu terjadi di antara dua sungai. Sungai ini dikenal dengan nama Kali Kembar. Perkelahian itu berlangsung berhari-hari. Kedua orang itu sama kuatnya. Tidak ada yang kalah dan tidak ada yang menang. Keduanya sama-sama jaya. Tempat pertarungan itu akhirnya dinamakan Kalijaya. Itulah yang kini menjadi Banjar Baluk Satu.

Pada masa itu, jumlah penduduk sedikit. Hanya sekitar 24 Kepala Keluarga. Kalijaya dipimpin oleh seorang Kelihan Gede. Di antara penduduk desa itu. Ada seorang dukuh yang sakti. Namanya Dukuh Baluk.

Dukuh Baluk berasal dari Jawa Timur. Ia datang dari sebuah pedukuhan. Pedukuhan itu bernama Padukuhan Baluk. “Dukuh Baluk sangat sakti. Beliau disegani oleh penduduk setempat. Pendapatnya selalu dituruti,” jelas seorang tokoh adat. Kewibawaannya sangat besar di desa.

Sebelum meninggal dunia, dukuh itu berpesan. Beliau berpesan kepada penduduk desa. “Beliau meminta tempat ini dijadikan desa. Jika suatu saat tempat ini menjadi desa. Diberi nama Baluk, sesuai nama asalnya,” tambahnya. Penduduk desa pun menyanggupi pesan itu.

Setelah Dukuh Baluk wafat. Kalijaya pun berganti nama. Menjadi Desa Baluk. Pada waktu itu, desa ini hanya satu banjar. Banjar ini kini dikenal sebagai Banjar Baluk Satu. Lokasinya di ujung timur desa.

Wilayah barat desa masih berupa kebun. Kebun-kebun itu dulunya daerah “pabian”. Secara bertahap, desa ini berkembang. Berkembang ke arah barat. Menjadi Banjar Baluk Dua, Banjar Anyar, Banjar Jati, dan Banjar Rening.

Desa Baluk sekarang memiliki lima banjar. Yaitu Banjar Baluk Satu, Banjar Baluk Dua, Banjar Anyar, Banjar Jati, dan Banjar Rening. Semua banjar ini masuk wilayah hukum. Hukum Kabupaten Jembrana. Dan Kecamatan Negara.

Sejarah pemimpin desa ini juga tercatat. Dimulai dari I Kabak sebagai Kelihan Gede. Ia menjabat dari tahun 1900-1914. Setelah itu, ada Pan Sudiasti dan Pan Mudrasti. Hingga tahun 1936, nama pemimpin berubah. Dari Kelihan Gede menjadi Perbekel.

I Nyoman Dipta adalah perbekel pertama. Ia menjabat dari 1936-1945. Kemudian Pan Gambar Kade menggantikannya. Hingga kini, desa ini dipimpin perbekel. Ada I Ketut Deker dan I Ketut Suasana. I Ketut Suasana menjabat sejak 2007.

Penanganan urusan adat dan budaya. Diberikan kepada Bendesa Pakraman. Desa Pakraman di Baluk terdiri. Dari Banjar Baluk, Banjar Taman, Banjar Anyar, Banjar Jati, dan Banjar Rening. Para Bendesa ini juga tercatat. Dimulai dari Pan Wenji pada 1966. Hingga kini dipegang oleh I Ketut Sinda.

Desa Baluk berada di Kecamatan Negara. Luasnya sekitar 791,4695 hektare. Ketinggiannya 25 meter dari permukaan laut. Desa ini terbentang sepanjang 7,2 kilometer. Dari timur ke barat. Lebarnya 2,2 kilometer. Dari selatan sampai utara.

Batas-batas wilayah desa ini jelas. Sebelah utara adalah Desa Kaliakah. Juga Desa Banyubiru. Sebelah timur ada Banjar Tengah. Dan Kelurahan Lelateng. Sebelah selatan ada Tegal Badeng Timur. Serta Tegal Badeng Barat dan Cupel. Sebelah baratnya Desa Cupel. Dan Laut Selat Bali.

Desa Baluk bermula dari Baluk Satu. Wilayah ini menjadi asal desa. Dari Baluk Satu, desa ini berkembang. Penduduk dan tanah pertanian bertambah. Sawah dan perkebunan pun tumbuh. GA/IJN.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here