
JEMBRANA, IJN – Festival Budaya Loloan Jaman Lama yang kembali dihadirkan oleh pemuda pemudi Kelurahan Loloan Timur, mengingatkan kembali akan tradisi-tradisi lama masyarakatnya. Tradisi-tradisi kultural yang dihadirkan di Loloan Jaman Lama (LJL), salah satunya adalah tradisi Ngotok. Kebiasaan masyarakat Loloan tempo dulu itu, ternyata selalu membekas dari ingatan masyarakat. Meskipun tradisi itu, jarang atau bahkan tak lagi dilakukan masyarakatnya. Ketika di salah satu stand pameran LJL menghadirkannya kembali, masyarakat langsung berdesakan ingin menonton. Tak hanya masyarakat yang terpesona, tetapi juga beberapa pejabat juga rindu akan masa lalu.
Tradisi Ngotok dimainkan oleh ibu-ibu dengan irama yang menimbulkan keceriaan. Rata-rata usia ibu-ibu yang memainkan tergolong sudah tua, namun di rona wajahnya masih tetap terlihat berseri dan mereka saling tersenyum karena tradisi ini dulu menjadi bunyi yang berirama sebagai tanda akan ada hajatan perkawinan dan sebagainya. Alat tradisi ini di antara sebuah lesung panjang yang umurnya sudah tergolong tua. Biasanya lesung ini difungsikan sebagai tempat untuk menumbuk padi bila panen tiba. Kehadiran tradisi Ngotok ini menjadi daya tarik tersendiri pada LJL ke V yang berlangsung di Kelurahan Loloan Timur Kecamatan Jembrana, selama dua hari, Jumat, 20 Oktober 2023 dan Sabtu, 21 Oktober 2023.
Bicara soal tradisi Ngotok ini, H. Musadat Johar salah seorang budayawan Loloan saat ditemui di sela-sela acara LJL, Sabtu, 21 Oktober 2023 menyampaikan bahwa tradisi Ngotok ini biasanya digunakan oleh warga atau masyarakat Loloan ketika sedang mengadakan sebuah hajatan, seperti perkawinan, khitanan dan sebagainya. Biasanya tradisi ini dilakukan saat masyarakat mulai sibuk hendak memasak seperti sedang mengiris rempah-rempah atau bumbu. Tradisi ini, kata Musadat, dibunyikan sehari sebelum orang mempunyai hajat. “Intinya Ngotok ini dibunyikan sebagai pertanda ada warga yang punya hajatan. Itu Ngotok yang ada unsur seninya,” ujar H. Musadat Johar yang juga sering menjadi sutradara drama kampung.
Menurutnya, Ngotok itu bunyi yang berirama dari lesung panjang atau ketungan. Tradisi Ngotok ini sudah jarang digunakan masyarakat. Bila pun ada, biasanya seperti hanya ada pada event-event semacam festival. Hilangnya tradisi ngotok, termasuk kebiasaan orang menumpuk padi di lesung panjang, salah satunya dikarenakan adanya tehnologi yang semakin praktis, sehingga masyarakat meninggalkan tradisi lama. Kebiasaan memainkan Ngotok ini, diperkirakan sudah jarang bahkan tak lagi ada yang memainkan sekitar tahun 80 –an. “Ngotok ini masih dimainkan sekitar tahun tujuh puluhann dan diperkirakan sudah hilang sekitar tahun delapan puluhan,” ujar Musadat yang juga gemar berpantun.
Para pemain Ngotok ini tidak memiliki kelompok seni yang khusus, tetapi biasanya hanya spontan dilakukan oleh para ibu-ibu. Kenapa ibu-ibu, menurutnya karena kaum perempuan biasanya di dapur memasak, sehingga sangat dekat dengan alat musik Ngotok, kala itu. “Mereka (ibu-ibu) itu tidak membentuk komunitas Ngotok, tapi semuanya spontan,” terangnya. Intinya Ngotok itu sebagai musik pengantar orang mau ada hajatan, mengiris rempah. Latihanpun secara alami dan mengalir saja. Namun bila disimak, kata Musadat, bunyi iramanya seperti nada musik burdah (rebana besar). Bunyi atau iramanya agak monoton, tapi yang menjadi keunikannya saat memainkan terkadang sambil tertawa sebagai tanda penuh kegembiraan. Irama Ngotok dilakukan tanpa ada syair atau lirik lagu. Hanya irama saja. (ono).