JEMBRANA, IJN – Menganyam daun pandan menjadi selembar tikar sudah menjadi kebiasaan yang ditekuninya sejak masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Pengalaman sejak kecil yang ditekuninya, kini tinggal memetik hasil. Kendati di era digitalisasi dan teknologi, pekerjaan menganyam pandan masih menjadi penopang ekonomi rumah tangganya. Selain menjadi topangan hidup, menganyam pandan menjadi tikar, merupakan kesadaran tersendiri untuk selalu mempertahakan atau melestarikan tradisi orang tuanya yang mengajarkan agar jangan melupakan tradisi menganyam. Menganyam daun pandan menjadi tikar sebagai alas tradisional ini menjadi cerita tersendiri bagi Ni Made Suartini (51) warga Banjar Puana, Desa Tegal Badeng Barat, Kecamatan Negara.
Saat berkunjung ke rumahnya, tampak beberapa gulungan daun pandan di jemur di halaman. Bila sudah cukup dijemur dan kering, lalu dilanjutnya dengan menganyam daun pandan itu menjadi selembar dengan ukuran yang dibutuhkan. Tikar buatannya merupakan warisan dari orang tuanya dan begitu pula sebelumnya diturunkan secara turun-temurun. Sebelumnya total menjadi perajin, dia sempat bekerja di sebuah pabrik. Setelah usia makin bertambah, dia pun memilih kembali untuk menekuni kerajinan menganyam daun pandan. “Sampai menekuni menganyam daun pandan ini sejak masih kelas enam sekolah dasar hingga besar dan menikah, terus menekuni kerajinan ini. Ya, kerajinan ini diajarkan secara turun temurun,” ujar ibu dua anak ini ketika ditemui di rumahnya, Selasa, 3 Oktober 2023.
Terkait bahan dasarnya, sebelumnya agak mudah mencarinya. Namun kata Suartini, sekarang ini memang sulit mencari bahannya, semenjak terjadi abrasi. “Dulu ketika tahun delapan puluhan dan sembilan puluhan bisa mencari di tepi pantai di Desa Cupel, Rening, tetapi sekarang setelah kena abrasi tidak bisa lagi mencarinya. Sekarang saya mencari pandan, jauh sampai di Sumbersari Melaya dan beli lagi, dengan harga yang agak mahal,” ujarnya. Pandan yang dibutuhkan adalah pandan berduri dan sekarang agak sulit dicari dan jarang serta hampir langka. “Dulu mencarinya lebih gampang dan sekarang agak sulit mencarinya,”ujarnya lagi. Harganya pun hingga ratusan ribu dan itu pun menurut ukuran daun pandannya. “Bahan-bahan yang saya ambil hingga 50 gulung daun pandan,” katanya.

Memasuki tahap menganyam, dalam seharinya diakuinya bisa memproduksi sampai dua tikar dengan ukuran panjang 1,5 meter x 1 meter (ukuran standar). Bila ada yang memesan bisa lebih dari ukuran itu. Lalu bagaimana dengan soal harga. Dia pun menghargakan untuk ukuran standar sekisar Rp 17 ribu rupiah. Harga ini menurutnya, setelah terjadi Corona. Bila sebelumnya bisa mencapai Rp 20 ribu perlembar tikar dengan ukuran standar. Sedangkan untuk ukuran besar sekitar 2 meter lebih bisa mencapai Rp 40 ribu pertikar. Satu buah tikar dengan ukuran besar, lama produksinya bisa mencapai dua hingga tiga hari. Kemudian yang ukuran kecil dalam dua jam saja sudah mendapatkan satu buah tikar. Sehingga dalam satu hari, cukup mendapatkan hasil produksinya dua buah tikar pandan.
Suartini agak sumringah ketika bicara hasil penjualan kerajinannya. Bahkan untuk sekarang ini, pesanan tikar pandan padanya, cukup banyak dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. “Sekarang penjualannya lebih banyak, termasuk pesanan. Kalau dulu saya bawa ke pasar saja dan ada langganan pedagang di sana. Tapi sekarang, orang datang kemari memesan tikar pandan ini sesuai dengan ukuran,” kata istri Putu Bujangga ini. Setiap hari dipastikan memproduksiya dua buah tikar. Menurutnya harga 17 ribu rupiah dengan ukuran standar itu, memang tidak sesuai dengan bahan serta tenaga. Namun baginya, tidak jadi masalah. Alasannya dari pada menganggur, jadi seharga itu tidak masalah. Selain dia bekerja sebagai perajin tikar pandan, suaminya pun tetap bekerja, terkadang sebagai buruh serabutan dan terkadang jadi buruh tukang.

Tidak hanya berbicara soal hasil penjualannya saja, Suartini juga menuturkan soal proses pembuatannya secara garis besar. Setelah bahan daun pandan berduri diperoleh, terlebih dahulu durinya dihilangkan, sebelum memasuki tahap menggulung dan dilanjutkan pada tahap menjemur. Gulungan daun pandan yang masih hijau itu dijemur di halaman rumah, hinga kering selama tiga minggu. Setelah dirasa cukup, lalu dilakukan pencucian dan besok paginya baru bisa dianyam. (ono).