Menengok Tradisi Male dan Ambur Salim di Loloan Timur

0
817
Mengarak male dilakukan warga di Kelurahan Loloan Timur, Jembrana, KamisĀ (28/9/2023). Sumber foto : Ono/IJN

JEMBRANA (IJN) – Kampung Loloan di Kelurahan Loloan Timur, kerap mempertahankan sejumlah tradisi yang merupakan kebiasaan orang terdahulunya. Setiap hajatan atau perayaan, beberapa kebiasaan yang disepakati menjadi tradisi di Loloan, masih dilakukan hingga sekarang. Salah satunya membuat male dalam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Male merupakan sejumlah telur yang diwadahi berbagai bentuk serta dihiasi dengan warna warni. Bila dulu untuk menancapkan telur di batang pohon pisang dengan makna filosofinya. Tetapi saat ini banyak menggunakan alternatif bahan lainnya, namun tetap tidak mengurangi makna dari male tersebut. Tradisi membuat male, juga tak terlepas dari upacara menggunting rambut bayi dengan kelengkapan sarana tradisi yang digunakan.

Sejumlah male dengan berbagai macam bentuk dan hiasan di jejer di pinggir untuk siap-siap di arak menuju Masjid Baitul Qodim Loloan Timur, Kamis, 28 September 2023. Tradisi mengarak male dilakukan dengan diiringi irama hadrah. Sampai di masjid, sejumlah male itu diletakan dan dalam prosesi acara Maulidan, telur yang sudah dihiasi dibagi-bagikan kepada masyarakat yang hadir. Pada peringatan tersebut juga dilakukan prosesi tradisi Ambur Salim dengan menghamburkan beras kuning berisi uang logam, usai selesai dilakukannya pemotongan rambut bayi. Maknanya menuai kebersamaan serta keceriaan di bawah taburan beras kuning.

Tradisi ambur salim yang dilaksanakan di halaman Masjid Baitul Qodim Kelurahan Loloan Timur, Kamis, 28Ā SeptemberĀ 2023. Sumber foto : Ono/IJN

Salah satu warga Loloan Timur, Nur Hikmah mengatakan tradisi menggunting rambut bayi juga disertai dengan pembuatan male. Selain itu, juga menyertakan sarana yang ditaruh di atas talam, berupa sejumlah kain yang belum pernah digunakan, beras kuning yang diwadahi mangkok, uang logam atau koin, kelapa gading dan beberapa sarana untuk merias diri. Usai pengguntingan rambut bayi, dilakukan dengan menghamburkan beras kuning yang berisi uang logam di halaman masjid. ā€œAmbur salim ini merupakan tradisi yang menandakan bahwa proses menggunting rambut bayi telah selesai,” ujarnya. Tradisi Ambur Salim juga digunakan pada acara pelapasan calon jamaah haji ketika keluar rumah menuju lokasi pelepasan rombongan jamaah haji. Selain itu, tradisi ini juga sering digunakan saat acara pernikahan. Intinya, Ambur Salim memiliki makna menghamburkan ke udara dan salim adalah keselamatan.

Nur Hikmah, salah seorang warga Loloan Timur membawa sarana terdiri di antaranya kain setalam untuk prosesi pengguntingan rambut bayi, Kamis , 28Ā SeptemberĀ 2023. Sumber foto : Ono/IJN

Sementara masih bicara tentang Male dan Ambur Salim, salah satu warga yang juga pecinta seni budaya di Loloan, Fahrul Mahali mengatakan biasanya satu male ini dibuat untuk satu orang bayi yang mengikuti prosesi pengguntingan rambut. Selain pembuatan telur male dan pengguntingan rambut bayi, juga disertai dengan menyertakan sarana-sarana khusus, berupa yaitu kain setalam. Menurutnya kain setalam ini merupakan kain dengan tujuh jenis lalu ditambah dengan kelapa gading yang telah diukir. Selain itu juga disertai uang koin atau logam dan ada benda-benda berharga lainnya yang ditaruh di atas talam. ā€Semua itu menandakan bahwa bayi ini sudah siap menghadapi kehidupan didunia dengan berbagai macam ritual seperti pemotongan atau pengguntingan rambut lalu dibawa ke rumah dimandikan dengan air kelapa gading. Selanjutnya bayi itu dilulur atau diborehi tubuhnya dengan beras kuning. Bayi itu kemudian dikenakan pakaian yang bagus, untuk menandakan bahwa bayi ini akan menjadi anak yang soleh dan soleha,ā€ terangnya. Tradisi telur male dan lainnya sudah ada sejak dulu hingga sekarang dengan sentuhan modernisasi. Artinya bentuk pajegan malenya lebih modern dengan jamanĀ dulu.Ā (ono).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here