Desa Batuagung, Dari Meditasi Raja hingga Lahirnya Sembilan Banjar

0
139
Ilustrasi desa batuagung Jembrana.

InfoJembrana.com | JEMBRANA– Kita tidak akan pernah bisa meninggalkan sejarah. Kalimat itu berlaku sempurna di Jembrana. Khususnya bagi Desa Batuagung dan sekitarnya. Desa ini adalah pedesaan rintisan abad ke-18. Dahulu, wilayah ini dikenal sebagai Jimbarwana Jembrana. Artinya adalah hutan belantara yang luas sekali.

Mengetahui masa lalu menjadi dasar perkembangan, Desa Batuagung dimulai dari keruntuhan.

Air Bah dan Kebangkitan Puri Andul

Kisah dimulai dari musnahnya Kerajaan Brangbang. Bencana air bah hebat terjadi sekitar tahun 1690. Musibah erosi atau tanah longsor menghancurkan kerajaan. Manca Agung Kerajaan Brangbang selamat, yang adalah I Gusti Made Yasa.

Ia kemudian kembali ke Mengwi melapor pada Raja, I Gusti Made Yasa mendapat perintah penting. Ia harus kembali ke Tamblang, Jembrana, diperintah membawa 100 orang komplet. Mereka kemudian membangun puri baru di barat Sungai Tukadaya. Puri ini dinamai Puri Andul, yang sangat bersejarah.

Tidak lama kemudian, Made Yasa ke Mengwi lagi. Ia memohon putra raja untuk diangkat menjadi Raja di sini Permohonan itu dikabulkan Raja Mengwi. Imigrasi kedua pun terjadi dengan 200 orang komplet. Rombongan ini dipimpin dua Raja, diterima di Puri Andul.

Asal Usul Nama Batuagung yang Mulia

Putra Raja Mengwi itu bernama I Gusti Alit Takmung. Setelah dewasa, beliau dinobatkan sebagai Raja Jembrana. Gelarnya adalah Anak Agung Ngurah Jembrana. Ia membangun Puri Agung Jembrana tahun 1715, dan wilayah sekitar puri diberi nama Jembrana. Inilah cikal bakal kota kecil Jembrana sekarang.

Sebelum penobatan, Raja bertapa di sebuah batu besar, yang lokasi batu ada di barat Sungai Tukadaya. Batu itu tidak jauh dari Puri Andul. Saat bertapa, Raja mendapat wahyu suci berisi perintah membangun tempat pemujaan Dewa Siwa. Tujuannya memohon keselamatan Raja dan masyarakat.

Raja lantas membangun candi dekat batu itu. Candi itu diberi nama Candi Rawi. Batu tempat bertapa dianggap bernilai mulia. Nilai mulia atau besar itulah yang kemudian menjadi dasar nama, atau yang kini lokasi sekitar batu diberi nama Batuagung. Inilah asal usul nama Batuagung yang melegenda.

Dari Dua Wilayah Menjadi Sembilan Banjar

Batu tempat pertapaan Raja kini ada di sungai. Banjir sering terjadi sehingga lokasi batu bergeser. Candi Rawi dipindahkan oleh Raja Jembrana III. Candi itu sekarang ada di batas selatan desa. Awalnya, wilayah Batuagung hanya radius puluhan meter.

Wilayah ini lalu berkembang sedikit demi sedikit. Pemukiman baru mulai bermunculan, misalnya Banjar Anyar, dari tanah delta yang subur, yang awalnya ada dua wilayah dipimpin Kelian Desa. Kedua wilayah itu adalah Batuagung dan Banjar Anyar.

Perkembangan terus terjadi seiring waktu. Dua wilayah itu berkembang menjadi sembilan banjar. Contohnya Banjar Tegalasih, bekas kebun sulasih Raja. Ada pula Banjar Taman, diambil dari pertamanan Raja. Semuanya membentuk Desa Batuagung yang sekarang.

Sejak 1930, I Nengah Kinon menjadi Perbekel pertama, dan wilayah desa terus diperluas dan disempurnakan. Desa Batuagung kini memiliki sembilan banjar resmi. Semua bersatu di bawah Pemerintah Desa Batuagung. Sejarah Desa Batuagung membuktikan ketahanan sejarah yang mulia tentang peradaban masa lalu hingga saat ini. (GA/IJN).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here