Warren Buffett Kritik Investasi Emas, Sebut Aset Tidak Produktif yang Hanya Diam Menatap Anda

0
46
Warren Buffett bongkar kelemahan investasi emas di tengah lonjakan harga global. Sang miliarder ingatkan risiko aset tidak produktif bagi investor.

InfoJembrana.com | JEMBRANA- Investor kawakan Warren Buffett kembali melontarkan kritik pedas terhadap fenomena lonjakan harga logam mulia belakangan ini. Sang miliarder menilai masyarakat terlalu terjebak dalam euforia spekulasi tanpa memahami nilai fundamental aset tersebut secara mendalam. Ia memperingatkan bahwa memegang logam kuning dalam jangka panjang justru berisiko menghambat pertumbuhan kekayaan riil para pemodal.

“Emas memiliki kelemahan fatal karena ia sama sekali tidak menciptakan nilai ekonomi riil bagi para pemiliknya,” ujar Warren Buffett dalam sesi wawancara yang dikutip pada Minggu, 8 Februari 2026.

Filosofi investasi Buffett selalu berfokus pada kemampuan sebuah aset dalam menghasilkan arus kas yang berkelanjutan. Berbeda dengan saham perusahaan atau lahan pertanian, emas tidak memberikan dividen maupun hasil panen kepada pemiliknya. Karakteristik ini membuat emas masuk dalam kategori aset mati yang tidak memberikan kontribusi pada ekonomi.

“Jika Anda memiliki satu ons emas selamanya, Anda tetap hanya akan memiliki satu ons emas tersebut,” tutur pria berjuluk Sang Bijak dari Omaha itu dengan nada sindiran yang lugas.

Kritik Buffett juga menyentuh sisi kegunaan praktis yang sangat terbatas jika dibandingkan dengan logam industri lainnya. Perak memiliki peran besar dalam dunia medis, teknologi elektronik, hingga sistem pemurnian air bersih di seluruh dunia. Sebaliknya, emas dianggap memiliki nilai guna yang jauh lebih rendah di dalam ekosistem produksi global saat ini.

“Logam mulia ini hanyalah sebuah objek yang hanya diam di tempat dan selalu menatap Anda,” ucap Buffett menjelaskan pandangannya mengenai minimnya produktivitas instrumen investasi tersebut kepada para jurnalis.

Lonjakan harga yang terjadi di pasar saat ini diduga kuat hanya didorong oleh ketakutan para spekulan. Aliran modal yang masuk lebih banyak berasal dari sentimen ketakutan kehilangan momentum atau dikenal dengan istilah populer FOMO. Buffett melihat fenomena ini sebagai siklus keserakahan manusia yang berulang setiap kali terjadi ketidakpastian kondisi geopolitik.

“Anda harus merasa takut saat orang lain sedang serakah dan menjadi serakah saat orang lain takut,” kata Buffett merujuk pada prinsip dasar investasi yang selalu ia pegang teguh selama puluhan tahun.

Para pakar keuangan menyarankan investor agar tidak menaruh seluruh modal mereka pada instrumen logam mulia ini. Alokasi ideal untuk emas sebaiknya hanya berkisar antara satu hingga maksimal tiga persen dari total portofolio. Diversifikasi aset tetap menjadi kunci utama untuk menjaga keamanan modal dari fluktuasi pasar yang tidak terduga.

“Membeli emas saat harga melonjak tajam hanya akan membuat investor terjebak di puncak harga tertinggi,” ungkap Lee Baker, seorang perencana keuangan independen, memberikan peringatan keras bagi para investor pemula.

Bagi Buffett, investasi terbaik adalah aset yang memberikan nilai tambah nyata dan menggerakkan roda perekonomian dunia. Emas memang berfungsi sebagai tempat berlindung saat krisis, namun ia bukan penyimpan nilai jangka panjang. Produktivitas tetap menjadi indikator utama dalam menentukan kualitas sebuah instrumen investasi yang sehat dan menguntungkan.

“Pilihlah aset yang benar-benar memberikan kontribusi jelas bagi kemajuan ekonomi dunia saat ini dan nanti,” pungkas Buffett menutup penjelasannya mengenai strategi pemilihan portofolio yang cerdas bagi masyarakat luas. (GA/IJN).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here